Bhakti Pepranian merupakan prosesi yang menandai berakhirnya Pujawali Ngusaba Kedasa Pura Ulun Danu Batur. (BP/ina)

BANGLI, BALIPOST.com – Bhakti pepranian menjadi salah satu bagian prosesi dalam Karya Pujawali Ngusaba Kedasa di Pura Ulun Danu Batur, Desa Pakraman Batur, Kintamani. Dalam prosesi bhakti pepranian, krama Desa Pakraman Batur menghaturkan hasil bumi yang terbaik berupa ajengan, lauk pauk lengkap dengan pala bungkah dan pala gantung. Maknanya adalah sebagai wujud syukur atas segala anugerah sang pencipta.

Prosesi bhakti pepranian di Pura Ulun Danu Batur dilaksanakan pada Jumat (13/4). Bhakti pepranian digelar di areal madya mandala pura dan diikuti oleh ratusan krama serta pejabat pemerintahan.

Prosesi ini merupakan penanda berakhirnya rangkaian Karya Pujawali Ngusaba Kedasa di Pura Ulun Danu Batur yang puncaknya dilaksanakan pada 31 Maret lalu.

Pangemong Pura Ulun Danu Batur, Desa Pakraman Batur, Jro Gede Batur Duhuran menjelaskan, tujuan dari pelaksanaan bhakti pepranian adalah sebagai wujud syukur sekaligus permohonan maaf kehadapan Ida Bhatara, bilamana selama Ida Bhatara nyejer, terdapat kekurangan yang tidak sengaja diperbuat oleh krama. “Sebagai manusia, tentu kita tidak bisa lepas dari kesalahan. Apalagi Pujawali Ngusaba Kedasa merupakan karya yang besar. Tentu ada saja kekurangan atau yang terlewatkan. Jadi bhakti pepranian merupakan sarana kita memohon maaf kepada beliau, seraya memohon agar Ida Bhatara memberikan keselamatan dan kesejahteraan untuk alam semesta beserta isinya,” jelasnya.

Ditambahkan Jro Gede Batur Duhuran, dalam bhakti pepranian, sarana yang dihaturkan berupa ajengan, lauk pauknya, dengan pale bungkah dan pale gantungnya. Semua yang dihaturkan adalah yang terbaik yang dimiliki krama.

Baca juga:  Ini, Dudonan Karya di Pura Ulun Danu Batur

Setelah dihaturkan, bhakti tersebut kemudian ditunas bersamaan dengan keluarga. Maknanya untuk kerumaketan (kebersamaan) sekaligus memohon agar Ida bhatara berkenan menganugrahkan keselamatan dan kesejahteraan untuk semua.

Sambung Jro Gede Batur Duhuran setelah bhakti pepranian, prosesi kemudian dilanjutkan dengan bhakti perang-perangan Tari Baris Jojor dan Tari Baris Gede. Tarian Baris Jojor dan baris Gede, masing-masing dimainkan oleh dua orang. Kedua penari bergerak dari arah yang berlawanan (utara dan selatan), setelah bertemu ditengah-tengah, penari ini akan menemukan merta.

Makna dari perang-perangan ini adalah untuk mencari mertha, maka umat harus berperang terlebih dahulu. “Di sini perang yang dimaksud, bukan perang yang sebenarnya. Hanya perang simbolis saja. Bahwa untuk mencari kesuksesan harus berproses dengan kerja keras,” kata Jero Gede Batur Duhuran.

Setelah bhakti perang-perangan, prosesi selanjutnya yang dilaksanakan yakni Bhakti Matiti Suara. Matiti suara adalah bisama atau pituah dari Ida Bhatara.

Inti dari pituah ini adalah masyarakat diminta selalu berbuat baik. Adapun isi dari potongan pituah dalam Bhakti Matiti Suara ini, berbunyi “Krama desa lan umat hindu sami. Pirengin becik becik ngih. Mule kliki mule biyu, mule akidik mupu liyu. Balik sinuriak, ngih”. Krama yang menyahut nggih dalam prosesi matiti suara, harus menaati perkataannya. Siapapun yang mengingkari diyakini akan menerima hukuman dari Ida Bhatara. “Ini kan semua pituah yang termuat ring purana Pura Ulun Danu Batur. Kami masyarakat Batur sangat meyakini ini,” jelasnya. (Dayu Swasrina/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.