Lahan kritis seluas 1.200 hektar di enam desa di Kecamatan Gerokgak mulai tahun ini dikembangkan dengan budi daya tebu untuk bahan baku gula. (BP/mud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Lahan pertanian di Kecamatan Gerokgak sebagian besar tergolong lahan kritis. Kondisi ini mulai disikapi Pemkab Buleleng dengan menjadikan lahan produktif dengan mengembangkan budi daya tanaman tebu. Upaya ini dipilih karena peluang menjual tebu untuk bahan baku gula ke Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) terbuka lebar.

Data dikumpulkan di lapangan Minggu (15/4), budi daya tebu untuk bahan baku gula ini diawali dengan kebijakan Kementrian Pertanian (Kementan) RI yang mengarahkan budi daya tebu ke Buleleng. Kebijakan di era Presiden Joko Widodo ini dilakukan karena sejumlah pabrik gula di Jawa Timur dan sekitarnya kesulitan mendapat tebu. Ini karena lahan perkebunan tebu di Jawa semakin menyempit akibat faktor alih fungsi lahan.

Kementan pun menawarkan program budi daya tebu di Bali Utara. Dari penjajakan awal sampai program ini direalisasikan, lahan kritis di Kecamatan Gerokgak memenuhi syarat. Selain itu, salah satu perusahaan pun sudah bekerjasama dengan pemerintah untuk mengembangkan budi daya tebu di Gerokgak.

Baca juga:  Ini, 4 Tanaman yang Direkomendasikan Ada Dalam Kamar Tidur

Menurut Pelaksana tugas (Plt) Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan Dinas Pertanian (Distan) Buleleng Agung Adnyana, sejauh ini sudah ditetapkan areal budi daya tebu di atas lahan kritis seluas 1.200 hektar. Lahan yang tadinya hanya bisa ditanami jagung saat musim hujan, tahun ini akan ditanam tebu untuk bahan baku gula.

Ribuan hektar lahan kritis tersebut menyebar di beberapa desa di Gerokgak diantaranya di Desa Tukad Sumaga seluas 150 hektar dengan 52 kepala keluarga (KK) petani pengolah. Sanggalangit seluas 411, 45 hektar di mana petani yang siap membudidayakan tebu di daerah ini sebanyak 148 KK. Sumberkima 138 hektar dengan 42 KK petani, Pemuteran 100 hektar dengan 30 KK petani, Pejarakan 200,05 hektar di mana petani yang siap membudidayakan tebu sebanyak 90 KK, dan Desa Pengulon 200, 50 hekatar akan diolah oleh 72 KK petani.(mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.