Nyoman Alit sedang menghaluskan gong. (BP/sos)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Desa Tihingan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung digagas sebagai desa wisata oleh Pemkab Klungkung. Desa ini terkenal sebagai sentra pembuatan gamelan.

Usaha rumahan ini diyakini telah ada sejak jaman Kerajaan Gelgel. Karya yang dihasilkan para perajin telah mampu menembus pasar luar negeri (LN).

Memasuki desa yang berbatasan dengan Kecamatan Klungkung ini, mata akan menyaksikan alam yang masih asri. Hamparan sawah masih cukup luas. Ditanami sayuran maupun bunga pacah. Deretan bangunan juga terlihat rapi. Depannya ada dilengkapi taman kecil. Hirup pikuk juga tidak begitu terasa. Meskipun menjadi jalur menuju sejumlah desa.

Sejumlah rumah bagian depannya juga dilengkapi plang. Menunjukkan sebagai tempat pembuatan gamelan Bali. Salah satunya milik Ketut Suena.

Baru menginjakkan kaki pada halaman yang dibeton, mata langsung menatap seperangkat gamelan yang ditempatkan pada satu ruangan. Warnanya nampak berkilau. Keemasan, sangat menyala. Beberapa juga ditutup dengan kain merah. Supaya tidak terkepung debu.

Di belakang ruangan itu, nampak sejumlah orang tengah sibuk. Memotong bambu, mencocokkan dengan beberapa daun gamelan yang terbuat dari trawang. Itu akan dirangkai, mengeluarkan nada yang berbeda. Saat dimainkan, terdengar sangat nyaring.

Di sudut bangunan berdinding batu bata, nampak seorang pria tengah manggur. Merapikan permukaan tawa-tawa hingga halus dengan peralatan seperti serut (penghalus kayu). Ia adalah Nyoman Alit. Pekerjaannya itu sudah menjadi rutinitas sejak dirinya masih duduk di bangku SMP. “Ini belajar dari orang tua. Sampai buat gamelan juga,” tuturnya, Selasa (10/4).

Baca juga:  Tim Gabungan Temukan Warga Korea Lakukan Usaha Ekspor

Upah yang didapatkan dengan sistem borongan. Waktu penyelesaian setiap bagian tidak menentu. Tergantung ukuran dan juga tingkat kerumitan. Profesi seperti itu juga dilakoni warga lain. Jumlahnya cukup banyak. Termasuk generasi muda. “Separuh lebih yang kerja seperti ini. Regenerasi tetap jalan,” ucapnya.

Di sela-sela kesibukannya, Ketut Suena tak sungkan berbagi cerita. Usahanya itu sudah menjadi warisan dari kakek maupun orangtuanya. Sesuai keyakinan, kerajinan gamelan sudah ada sejak zaman Kerajaan Gelgel. “Ini sudah lama ada,” ucapnya.

Karya yang dihasilkan sudah terkenal. Yang membeli tidak hanya warga dari kabupaten lain di Bali. Tetapi juga sudah tembus luar negeri, seperti Amerika, Jepang, Kanada, Jerman, Belanda dan lain sebagainya. “Gamelan Bali itu lengkap. Banyak yang tertarik,” kata pria yang ramputnya sudah putih ini.

Harga jualnya menyesuaikan. Satu barung gong kebyar kisaran Rp 350 juta. Yang lebih besar bisa Rp 600 juta. Setiap bulan, pesanan selalu ada. “Disini banyak yang buat,” tandasnya. (Sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.