Sebuah bangunan permanen di Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru ambruk akibat pondasi tergerus abrasi. Panti Pebuahan tercatat salah satu titik kritis abrasi di Jembrana. Total panjang pantai di Jembrana yang rawan abrasi hingga tahun 2018 ini 30 kilometer. (BP/olo)

NEGARA, BALIPOST.com – Kabupaten Jembrana yang memiliki 76 kilometer panjang garis pantai, 30 kilometer diantaranya masih kritis diterjang abrasi. Daratan yang terancam hilang itu tersebar di 22 titik dari Pekutatan hingga Gilimanuk. Guna menanggulangi abrasi itu, Pemkab menunggu uluran bantuan dari pemerintah pusat yang memiliki kewenangan.

Diantara titik kritis abrasi itu merupakan kawasan wisata dan permukiman penduduk. Seperti di Lingkungan Jineng Agung, Kelurahan Gilimanuk, Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru dan Pantai Delodberawah, Kecamatan Mendoyo.

Di Pantai Pebuahan, puluhan bangunan sudah ambruk dampak dari abrasi ini. Dari pengamatan Selasa (10/4), abrasi telah merubah bangunan beton menjadi puing-puing. Deretan warung-warung kuliner juga sangat terdampak bahkan diantaranya tutup. Dalam kurun waktu setahun terakhir, banyak tanah yang hilang tergerus ombak.

“Ini sudah bertahun-tahun, tapi tak juga ditangani. Warung dan rumah warga hancur. Bahkan air laut sampai ke jalan,” terang Andi salah seorang warga.

Jalan menuju pantai itu kini sebagian diantaranya sudah dirabat beton untuk memudahkan akses. Namun saat air laut naik (pasang), jalan tersebut hilang terendam air laut. Di beberapa titik jarak bibir pantai dengan jalan kurang dari satu meter. Begitu halnya dengan warung dan rumah warga.

Baca juga:  Nelayan Tanam Cemara Laut Untuk Cegah Abrasi

Kondisi serupa juga terjadi di permukiman warga di Lingkungan Jineng Agung, Kelurahan Gilimanuk. Bahkan jalan aspal penghubung permukiman dengan pasar sudah putus. Upaya warga membentengi dengan bahan seadanya tidak menjamin. Air tetap menerjang permukiman warga  terutama saat  air laut pasang.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPRPKP) Jembrana, I Wayan Darwin, dikonfirmasi kemarin membenarkan masih ada 30 kilometer panjang pantai kritis abrasi. Untuk penanganan sudah dilakukan secara bertahap dari pusat seperti tahun lalu di Pantai Medewi sekitar 100 meter dan Gilimanuk 125 meter.

Benteng pengaman pantai yang digunakan menggunakan sistem batu armor, sebab hingga saat ini, sistem pertahanan menggunakan batu-batu besar itu paling  bertahan lama. Namun untuk di Gilimanuk diakuinya belum mencakup semua. “Tahun ini sudah kita usulkan, kita tunggu tahun ini sepertinya kembali turun bantuan. Tetapi belum tahu berapa panjangnya dan dimana,” terangnya.

Dari 22 titik pantai yang kritis abrasi itu menurutnya sudah terdata dan diajukan untuk mendapatkan penanganan dari pusat. Diakuinya untuk penanganan abrasi ini membutuhkan anggaran yang cukup besar, sehingga ditangani oleh pusat. (surya dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.