Petani lokal Tabanan tidak bisa memenuhi kuota ekspor sehingga diambil alih Jabar. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dibukanya kembali kran impor manggis oleh Cina membawa angin segar bagi petani manggis di Bali. Oleh karena itu produksi komoditi manggis bakal digenjot hingga 60 persen tahun 2019.

Menurut Ketua Asosiasi Petani Manggis Kabupaten Tabanan Jero Tesan, tahun 2018 pihaknya akan mengembangkan 50 ha lahan manggis di Pupuan dan Selemadeg Barat Tabanan. “Setiap tahun ada perluasan lahan manggis. Bahkan masih banyak lahan – lahan di Bali yang berpotensi dikembangkan manggis lagi,” ungkapnya.

Sementara saat ini total lahan manggis di Tabanan adalah 3.200 ha dengan 6.500 petani. Dari 3.200 ha lahan manggis, yang sudah berproduksi mencapai 950 ha. Dari 950 ha lahan manggis yang berproduksi, ia hanya mendapatkan hasil panen 30 persen tahun ini. Karena minim cuaca tahun sebelumnya tidak bersahabat, dimana curah hujannya lebih tinggi “Tahun ini memang agak berkurang karena cuaca,” ujarnya.

Namun tahun depan, dengan adanya prediksi cuaca dari BMKG yang lebih bagus, ia optimis panen manggis bisa mencapai 60 persen. Sehingga permintaan manggis dari Cina bisa terpenuhi.

Selain itu, ia juga menargetkan tahun 2019 sumbangan manggis Indonesia dari Bali ke Cina bisa mencapai 6.000 ton. Karena tahun-tahun sebelumnya, rata-rata sumbangan manggis dari Bali 4.000 ton.

Diakui dengan pengalaman penolakan manggis asal Indonesia sebelumnya, ia berupaya untuk meningkatkan kualitas manggis. “Sebelum dibukanya kembali kran impor oleh Cina, sebenarnya kita sudah melakukan pengembangan dan upaya peningkatan hasil produksi sejak dulu,” ujarnya.

Baca juga:  Kerajinan Napi LP Banyuwangi Diekspor ke Korea

Setiap tahun pihaknya mendapat bantuan bibit dari Kementerian Pertanian baik dari program asuransinya maupun program langsung dari pemerintah. Masalah yang dialami saat ini ada peningkatan kualitas pasca panen. Yaitu pada saat menangani di packing house. “Itu yang kita upayakan. Buktinya kita sudah bisa kirim per hari ini 70 ton. Berarti upaya kita itu sudah masuk dan diterima,” pungkasnya.

Ia berharap tahun depan volume ekspor manggis dari Bali bisa lebih maksimal. Selain itu kualitas manggis juga bisa dipertahankan. Caranya dengan memperhatikan proses pada saat packing house dan mengembangkan SDM untuk menangani packing house tersebut.

Meski proses pasca panen berpengaruh besar terhadap kualitas manggis, namun sejatinya peningkatan kualitas dapat dilakukan mulai dari penanaman hingga pemeliharaan. Seperti di Sukabumi, upaya peningkatan kualitas dimulai dari pohon.

“Jadi ada penyemprotan dan pembersihan sehingga hilanglah hamanya. Di Bali rencananya kita akan berkoordinasi dulu dengan Dinas Pertanian Provinsi, Kabupaten/Kota,” jelas Direktur PT Raja Manggis itu.

Ia akan mengumpulkan kelompok tani manggis untuk memberikan informasi terkait upaya peningkata kualitas ini. Selain itu juga melakukan evaluasi kegiatan tersebut agar ke depanya bisa diaplikasikan di lapangan.(citta maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.