SEMARAPURA, BALIPOST.com – Petani di Kabupaten Klungkung sudah seluruhnya berumur. Ditengah kondisinya demikian, kesejahteraan belum dirasakan.

Bahkan, belakangan sejumlah persoalan masih menggerogoti. Mengatasi ini, pemerintah didesak untuk semakin maksimal memberikan perlindungan. Itu terungkap saat Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Klungkung bertemu dengan Komisi II DPRD Klungkung, Senin (9/4).

Ketua KTNA Klungkung, I Wayan Kardana mengatakan sampai saat ini petani masih dihadapkan dengan tingginya biaya sarana-prasarana produksi, seperti pembelian pupuk dan obat-obatan, Hasil panennya yang tak seberapa seakan habis untuk memenuhi itu.

Kata sejahtera pun hanya sebuah mimpi. Belum lagi dihadapkan dengan cuaca buruk yang cukup sering melanda. “Ini yang masih jadi persoalan yang dihadapi petani. Biaya masih tinggi,” ungkapnya.

Realita itu menjadi salah satu penyebab sektor agraris ini kurang dilirik oleh generasi muda. Sebagian besar memilih untuk mencari pekerjaan yang dinilai lebih menjanjikan, seperti pariwisata.

Jika ini terus berlanjut, akan mengancam produksi pangan, tak hanya lingkup kabupaten, namun juga nasional. “Regenerasi ini yang benar-benar sulit. Petani seperti tinggal satu generasi,” ucapnya.

Pria asal Desa Bakas, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung ini menyebutkan alih fungsi lahan pertanian juga masih terus mengepung. Jumlahnya mencapai 4 persen setiap tahun dari total luasan.

Langkah antsipasi, diakui sudah dilakukan pemerintah dengan pemasangan rambu larangan. Namun, untuk menciptakan lahan pertanian berkelanjutan, dipandang perlu ada upaya lain, salah satunya membebaskan pajak bumi. “Kami meminta pemerintah dan juga dewan untuk lebih mempertegas soal larangan alih fungsi lahan ini. Jangan sampai lahan pertanian habis. Nanti malah jadi lahan beton berbuah genteng,” tegasnya.

Baca juga:  Antisipasi Nusa Penida Jadi Kuta Kedua, Perlu Ada "Grand Design" Pariwisata

Ketua KTNA Kecamatan Banjarangkan, I Wayan Kariasa yang juga hadir pada pertemuan itu menyebutkan dihadapkan kondisi demikian, pemerintah harus lebih maksimal memberikan perlindungan untuk petani. Seperti harga jual hasil panen supaya tetap stabil. “Kalau harga cabai naik, dinas langsung sidak pasar. Tetapi kalau petani menangis, jual hasil panen tidak laku. Pernah ada yang melihat? Pernah ada yang bertanya?,” katanya.

Menggugah semangat petani, penggiat pertanian asal Lingkungan Kemoning, Kelurahan Semarapura Klod, I Wayan Sulendra mengharapkan pemerintah bisa memberikan ruang untuk menjual hasil panen saat hari tertentu, seperti Jumat, bertepatan dengan pegawai melaksanakan olahraga di Lapangan Puputan Klungkung. “Kami ingin ada pasar tani. Ini untuk menyalurkan hasil panen petani,” imbuhnya.

Ketua Komisi II DPRD Klungkung, I Komang Suantara didampingi sejumlah anggota mengaku akan menindaklanjuti aspirasi yang diterimanya itu dengan komunikasi bersama instansi terkait. Termasuk mengusulkan program-program yang perlu digulirkan. “Kami segera jadwalkan rapat kerja bersama instansi terkait. KTNA juga diundang untuk hadir,” pungkasnya. (Sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.