Ida Pedanda Gede Oka Sidanta berbaur dengan umat Hindu saat pelayanan. (BP/ist)

NEGARA, BALIPOST,com – “Lebar” atau meninggalnya Ida Pedanda Gede Oka Sidanta dari Gria Gede Megati Taman Sari Tibusambi, akibat tertimpa Pohon Pule di Kedisan, Yehembang Kauh menyisakan duka bagi umat Hindu di Jembrana. Sulinggih yang saat welaka bernama Ida Bagus Kade Nuarda ini merupakan sosok yang merakyat di mata semeton dan braya (pengikut).

Ida Pedanda yang pernah menjabat Ketua Dharmopadesa Jembrana ini tidak segan untuk membaur, tanpa membedakan umat dan teguh dalam mempertahankan prinsip. Keteguhan itu terlihat ketika beliau menjadi satu-satunya tokoh yang menentang perombakan Pura Dang Khayangan Rambut Siwi beberapa tahun lalu.

Sejak layon disemayamkan di Griya Gede Megati Taman Sari, Tibusambi Sabtu (7/4) siang, sejumlah kalangan mejenukan, termasuk dari sesama Sulinggih, baik Jembrana maupun luar Jembrana. Seperti diantaranya dari Griya Kusara, Gria Megati, Gria Taman Sari-Tabanan, Griya Kutuh, Griya Dalung, Gria Penida, Griya Manistutu dan Griya Bedulu.

Semasa menjadi Sulinggih, selain melayani umat di Jembrana, Ida Pedanda Gede Oka Sidanta juga sering muput di Jawa Timur hingga Sumatera Selatan. “Beliau sering memilih membaur dengan umat. Dimanapun saat muput, tidak mau ditempatkan di tempat khusus walaupun disediakan,” ujar Ida Ayu Kade Mudarni (38), putri kedua almarhum Minggu (8/4).

Baca juga:  Lakalantas, 1 Tewas Digilas Truk

Mudarni didampingi suaminya, Ida Bagus Komang Susrama Megati, menuturkan petuah yang paling diingat adalah agar tidak menjaga jarak dengan umat. Meskipun sudah berkedudukan sebagai Sulinggih. Karena menurutnya besarnya umat adalah dengan mempersatukan umat Hindu.

Sejak mediksa bersama istri, Ida Pedanda Istri Rai Oka tahun 2002 lalu melalui Nabe (guru) Ida Pedanda dari Griya Gede Sibang, Badung, Ida Pedanda Gede Oka Sidanta pernah menjadi Pedanda Jawatan di Pemkab Jembrana di masa pemerintahan Bupati Jembrana I Gede Winasa.

Kendati menjabat pedanda jawatan saat itu, Ida Pedanda juga teguh menentang kebijakan yang dianggapnya menyalahi tatanan. Salah satunya, adanya upaya perombakan Pura Dang Khayangan Rambut Siwi yang saat itu menimbulkan pro-kontra di kalangan umat di Bali.

Setelah musibah dan layon disemayamkan, semeton menurutnya juga telah menebus ke lokasi Pohon Pule roboh di Kedisan, perempatan desa dan RSU Negara. Dari hasil memohon petunjuk di Gria nabe di Sibang Kaja, eed karya diawali pada 15 April (nyiramin), 27 April (mebasmi) dan tanggal 30 April (memukur). (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.