Belasan personel TRC BPBD Buleleng membongkar penutup trotoar Jalan Ahmad Yani, Singaraja Rabu (4/4) kemarin. Trotoar ini menyempit diduga sengaja dipersmepit ketika pembangunan ruko di pinggir jalan. (BP/mud)

SINGARAJA, BALIPOST.com –  Pasca banjir di Kota Singaraja pada awal Maret 2018 lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng melakukan normalsiasi got di pinggir Jalan Ahmad Yani, Singaraja Rabu (4/4). Bukan hanya me-normalsiasi got, personel Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD membongkar got yang sengaja ditutup pada saat membangun rumah toko (Ruko) di ruas jalan tersebut.

Sekitar 12 meter permukaan got di jalan ini diduga ditutup sehingga ketika hujan, volume air besar terhalang, sehingga menimbulkan banjir menggenangi rumah warga di pinggir jalan protokol tersebut.

Belasan personel Tim Reaksi Cepat TRC BPBD membongar beton penutup trotoar tepat di depan ruko yang dikontrak untuk diler sepeda motor Kawasaki. Selain membawa peralatan manual, personel ini membongkar penutup beton tersebut menggunakan alat ber-mesin. Pembongaran ini diawasi oleh sejumlah personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Buleleng.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Buleleng Ketut Sensus mengatakan, keputusan untuk membongkar penutup trotoar itu setelah melakukan assessment ditemukan permukaan got dengan penjang sekitar 12 meter menyempit.

Permukaan got menyempit karena diduga sengaja dibeton saat pembangunan ruko di pinggir jalan tersebut. Karena permukaan sempit, saat hujan deras beberapa waktu lalu, air tidak bisa mengalur deras kea rah barat atau timur. Justru, air meluap hingga merendam rumah penduduk di pinggir jalan tersbeut. Penanganan ini mengantisipasi kemungkinan terulangnya banjir ketika turun hujan.

Baca juga:  Senderan Pengaman Sungai Tukadaya Ambrol

“Kalau siapa yang menutup kami tidak tahu, dan sepertinya got ini dari luarnya saja tampak lebar, tapi di bawahnya sempit karena ditutup beton. Sempitnya permukaan got, saat hujan pun mengakibatkan air meluap dan memicu banjir ke rumah penduduk,” katanya.

Sementara itu, beton penutup irigasi di Dusun Corot, Desa Dencarik, Kecamatan Banjar juga mulai dibongkar. Beton yang rencananya untuk jalan ke lokasi pemukiman tersebut dibongar dengan mengerahkan alat berat. Ini karena konstruksi beton dibuat dengan sangat tebal dan rangka besi beton, sehingga pembongkaran dengan cara manual tidak berhasil optimal.

Beton ini terpaksa dibongkar karena posisinya menggeser irigasi ke barat, sehingga posisi irigasi dengan got di pinggir jalan tidak lagi lurus ke utara. Irigasi ini mengairi sawah di sebalah utara jalan Singaraja-Seririt tepatnya di Dusun Corot, Desa Dencarik.

Aliran air dari selatan akan tertahan karena saluran-nya tidak dibelokan, sehingga volume air yang besar tertahan dan meluap sampai merendam permukaan jalan. Atas kondisi ini, Bupati Putu Agus Suradnyana (PAS) pasca bencana banjir Dencarik belum lama ini memerintahkan BPBD dan instanasi terkait membongkar beton penutup irigasi tersebut. Setelah membongkar dengan peralatan manual, pembongaran sempat mandek dan baru dilanjutkan oleh pihak yang membaangun penutup saluran itu mulai Selasa (3/4) lalu.(mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.