Karena dianggap menyuguhkan tarian erotis, Polsek Kota Banyuwangi memanggil EO ajang kontes mobil modifikasi yang digelar Minggu (1/4) malam. (BP/udi)

BANYUWANGI, BALIPOST.com – Kontes dan pameran mobil modifikasi di Gedung Paramita Kencana, Banyuwangi, Minggu (1/4) malam, berbuntut panjang. Pihak panitia terpaksa berurusan dengan aparat kepolisian setelah menghadirkan tarian erotis di penghujung acara.

Polisi bertindak cepat setelah video tarian “panas” tersebut beredar luas di sosial media. Sedikitnya dua panitia kegiatan diperiksa penyidik Polsek Kota Banyuwangi, Senin (2/4) siang.

Keduanya dari pihak event organizer yang menangani kegiatan tersebut. “Kami bertindak cepat memintai keterangan pihak EO dan panitia. Sebab, kegiatan yang izinnya hanya kontes dan pameran mobil modifikasi ternyata menyuguhkan tarian erotis,” kata Kapolres Banyuwangi AKBP Donny Adityawarman melalui Kapolsek Kota AKP Ali Masduki.

Perwira ini menjelaskan, begitu mendapat laporan, pihaknya langsung menghentikan atraksi tarian erotis tersebut. “Pihak Dinas Pariwisata Banyuwangi sempat menegur ke panitia. Tapi, diklaim ada izin. Akhirnya, kami yang menghentikannya lantaran kegiatannya tak sesuai izin,” jelas Kapolsek.

Menurutnya, sesuai izin, kegiatan hanya kontes mobil modifikasi. Namun, diakhiri dengan tarian erotis. Diikuti sejumlah perempuan remaja berbaju seksi.

Kapolsek menjelaskan, pihaknya masih mengumpulkan keterangan terkait insiden ini. Selain panitia penyelenggara, penyidik meminta keterangan dari petugas Dinas Pariwisata Banyuwangi. “Kita akan periksa juga pemilik EO. Setelah itu, kita gelar perkara di polres. Ada unsur pidana atau tidak,” jelasnya.

Baca juga:  Dua Putri Indonesia Ikuti Kontes Kecantikan Dunia

Menurut Kapolsek, tarian erotis ini banyak dikecam warga dan sejumlah tokoh Banyuwangi. Sebab, digelar di gedung milik Pemkab Banyuwangi.

Sekretaris Fraksi PPP DPRD Banyuwangi Syamsul Arifin mengecam tarian erotis di gedung milik daerah tersebut. Menurutnya, tak etis jika gedung yang dibangun dari uang rakyat dipaka kegiatan yang melanggar etika dan moral. “Kami tak alergi dengan kontes yang kreativitas. Tapi, jangan sampai melanggar norma. Apalagi, Banyuwangi dikenal dengan adat dan komitmen menjaga kesopanan,” jelasnya.

Terkait hal ini, pihaknya akan mengajukan pemanggilan kepada pihak terkait kegiatan tersebut. Sebab, jangan  sampai peristiwa memalukan itu terulang lagi.

Kontes mobil modifikasi ini sejatinya tak hanya kali ini digelar di Banyuwangi. Bahkan, menjadi event tahunan. Namun, baru tahun ini, menyuguhkan tarian yang dinilai melanggar norma di Banyuwangi. Para perempuan remaja dengan pakaian minim menari bebas, diiringi musik rancak. Kegiatan ini menjadi pesta penutup kontes tersebut. (Budi Wiriyanto/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.