Tiga klon bibit beras merah dipilih untuk uji pemurnian. (BP/ist)

TABANAN, BALIPOST.com – Uji coba diversitas dengan melibatkan penanaman lima klon untuk menjadi varietas baru beras merah jenis beras merah cendana sudah mulai dipanen. Hasilnya dari lima klon yang dicobakan di dataran rendah, tepatnya di subak Pegendangan ada tiga klon yang terpilih untuk diujicobakan ke tahap berikutnya.

Ketiganya akan melalui tahap pemurnian sebelum nantinya ditetapkan sebagai varietas baru. Kepala Dinas Pertanian Tabanan, Nyoman Budana, Minggu (1/4), mengatakan lima klon yang ditanam di dataran rendah adalah klon G0, G10, C9, C8 dan C20. Dari lima klon tersebut dipilih tiga klon terbaik yaitu G0, G10 dan C8 untuk ditanam pada Juli mendatang. “Uji tanam ini adalah yang terakhir. Namanya tahap pemurnian,” ujar Budana.

Terpilihnya tiga klon ini dipaparkan Budana karena memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri. Kelebihan G0 ada pada anakannya yang banyak sehingga produksinya tinggi. Untuk G10 kelebihannya ada pada ciri khasnya bulu dan bentuk gabah seperti indukannya sementara untuk C8 gabah yang dihasilkan bulat-bulat.

Baca juga:  Diuji Coba, Penanaman Padi Inpari Sidenuk

Dalam tahap pemurnian nanti tiga klon ini akan diujicobakan di dataran tinggi dan rendah. “Klon yang bagus tumbuhnya di dataran rendah pasti lebih bagus hasilnya di dataran tinggi.Tetapi tetap akan dicoba di dua dataran ini,” ujar Budana.

Pada tahap pemurnian ini jika anggaran memungkinkan, direncanakan satu klon akan ditanam di luasan sekitar satu hektar. “Anggaran dari APBD kabupaten. Sedang dihitung berapa yang diperlukan. Jika tercover maka akan ditanam satu hektar untuk masing-masing klon baik di dataran tinggi maupun rendah,” papar Budana.

Jika tahap pemurnian ini selesai, diharapkan 2018 ini Tabanan sudah memiliki varietas beras merah cendana yang baru dengan sifat unggulan yang diinginkan yaitu memiliki sifat yang sama dengan indukannya tetapi lebih cepat panen dan produksinya lebih tinggi. Untuk kepastian varietas baru ini sendiri, menurut Budana, tetap menunggu keputusan dari BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) dan BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikat Benih). (Wira Sanjiwani/balipost)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.