SEMARAPURA, BALIPOST.com – Program city tour di Kabupaten Klungkung telah di-launching lima bulan lalu. Namun, keberadaannya belum berjalan optimal.

Kunjungan hanya lebih fokus pada Kertha Gosa yang menjadi salah satu bagian. Sementara sejumlah objek yang menjadi penunjang belum merasakan dampaknya.

Sesuai rancangan awal, objek inti yang ditawarkan pada program ini, yakni Kertha Gosa, Pasar Seni Semarapura, Monumen Puputan Klungkung, Desa Kamasan dan Puri Agung Klungkung yang lokasinya berdekatan. Penunjangnya, Desa Wisata Paksebali Kecamatan Dawan, Desa Tihingan Kecamatan Banjarangkan dan Museum Gunarsa, Desa Takmung, Banjarangkan. Namun, sejak di-launching, kunjungan hanya ramai di Kertha Gosa.

Sesuai informasi yang dihimpun dari penjaga tiket, hal tersebut mengakibatkan dua unit shuttle bus yang dibeli Rp 600 juta lebih itu sangat jarang terpakai. Seminggu hanya sekitar dua kali.

Bahkan, itu beroperasi bergiliran. Perbekel Paksebali, Putu Ariadi mengatakan sampai saat ini wisatawan berkunjung datang secara mandiri atau dibawa travel yang sudah diajak bekerjasama.

Khusus yang diantar menggunakan shuttle bus belum ada. “Belum ada dampak city tour ke sini. Wisatawan hanya datang sendiri,” ungkapnya, Jumat (30/3).

Langkah pemkab menggulirkan program itu sejatinya direspons positif karena dinilai akan memberi kontribusi dalam peningkatan jummlah kunjungan wisatawan. Namun, melihat fakta di lapangan yang berbanding terbalik, pemkab diharapkan bisa melakukan evaluasi. “Antara travel dan pemkab perlu kiranya duduk bersama menyamakan persepsi untuk menjalankan program ini. Kalau sekarang kan kesannya jalan sendiri-sendiri,” sebutnya.

Baca juga:  Umanis Galungan, Kunjungan ke DTW Lesu

Kepala Dinas Pariwisata Klungkung, I Nengah Sukasta mengungkapkan menyukseskan program itu, promosi oleh petugas tiket maupun pemandu sudah dilakukan. Namun, wisatawan belum tertarik untuk mencoba. “Kami sudah tawarkan. Tetapi wisatawan yang tidak mau. Itu karena travel juga punya paket sendiri perjalanan wisata,” dalihnya.

Ditegaskan, retribusi yang dibayarkan wisatawan Rp 12 ribu untuk dewasa dan Rp 6 ribu untuk anak-anak. Meski wisatawan hanya mengunjungi satu objek, tetap dipungut sebesar itu. “Retribusinya jadi satu paket. Biarpun ada beberapa objek yang tidak dikunjungi, tetap segitu,” kata mantan Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Klungkung ini.

Awal 2018, pemkab mewacanakan membentuk badan pengelola dengan maksud supaya lebih maksimal menggarap city tour. Namun, jelang Maret berakhir, itu tak kunjung terealisasi. Sukasta beralasan masih dalam proses. “Itu belum. Masih berproses,” tandasnya. (Sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.