TABANAN, BALIPOST.com – Burung hantu jenis Tyto alba adalah jenis burung yang menjadi predator alami hama tikus yang mengancam lahan pertanian. Karenanya beberapa desa di Tabanan mengembangkan populasi burung ini dengan membangun rubuha atau rumah burung hantu.

Salah satunya di Desa Senganan Penebel. Konservasi burung hantu di desa ini sudah berjalan sejak 2015. Saat ini konservasi telah berhasil menetaskan telur dari burung hantu ini sehingga populasinya bertambah menjadi 11 ekor.

Konservasi burung hantu Tyto alba di Desa Senganan dikelola oleh kelompok Uma Wali. Sejak tahun 2015 sudah puluhan ekor burung hantu dilepas ke alam liar.

Ketua TUWUT (Tyto Alba Uma Wali Untuk Tani) Desa Senganan, Kadek Jonita, mengatakan awal konservasi ini terbentuk adalah karenanya adanya gagal panen akibat tikus. Masyarakat kemudian berinisiatif untuk menangani hama tikus dengan mengembangkan predator alaminya yaitu burung hantu Tyto alba.

Komunitas Uma Wali kemudian belajar bagaimana melakukan konservasi dan pengembangan burung hantu ke Demak, Jawa Tengah dan kemudian diterapkan di Desa Senganan.

Seperti diketahui burung hantu jenis ini tidak bisa membangun sarang sendiri. Sehingga pihak konservasi membangun sarang bagi burung ini dan saat ini sudah ada sekitar 20 sarang yang dibangun dan tersebar di beberapa titik. “Satu rubuha berisi sepasang burung hantu,” ujarnya.

Baca juga:  Kreatif, Petani Ini Manfaatkan Tanah Marginal hingga Olah Hasil Panen

Tahun ini pun pihak konservasi berhasil menetaskan 11 telur burung hantu Tyto Alba. Menurut Jonita burung hantu Tyto alba berperan signifikan dalam menekan populasi tikus di Desa Senganan.

Dari data tahun 2015, 90 persen tanaman padi yang rusak dikarenakan serangan tikus. Namun sejak adanya burung hantu, kerusakan tersebut diminalisir sekecil mungkin dan petani tidak mengalami gagal panen kembali.

Selain populasi burung hantu yang hidup liar, konservasi juga memiliki sekitar tujuh burung hantu yang dipelihara di penangkaran karena mengalami masalah. Pada umumnya mengalami masalah di sayap sehingga tidak bisa melakukan manuver secara baik.

Pemasalahan yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan pakan burung hantu yaitu tikus. “Saat ini untuk pegembangan burung hantu kami kesulitan pakannya, yakni tikus. Kami harus berikan makan tikus agar instingnya sebagai pemburu tikus tetap terjaga,” terangnya. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.