GIANYAR, BALIPOST.com – Puluhan pasien dari Banjar Mudita, Desa Sukawati yang keracunan makanan beberapa hari lalu kondisinya mulai membaik. Hingga Selasa (20/3) malam total ada 43 pasien RSUD Sanjiwani yang sudah dipulangkan. “Kondisi 43 pasien ini sudah sehat total, artinya mereka sudah bisa makan minum dengan baik, dan tidak lagi dieare atau muntah-muntah,” jelas Dirut RSUD Sanjiwani, dr Ida Komang Upeksa, Selasa malam.

Sementara sisa pasien yang masih dirawat di RSUD Sanjiwani juga kondisinya berangsur membaik. Hanya mereka belum pulih total sehingga bisa dipulangkan. “Sisanya masih kita rawat, semoga secepatnya mereka juga bisa pulih seperti semula,” katanya.

Upeksa juga memastikan seluruh pasien yang diduga keracunan nasi bungkus usai pawai ogoh-ogoh ini tidak dipungut biaya perawatan di RSUD Sanijwani Gianyar. “Pasien ini tidak ada yang dipungut biaya, karena mereka ada yang biayanya disubsidi melalui Pemkab Gianyar da nada juga yang dijamin BPJS,” katanya.

Sementara Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Gianyar, masih menunggu hasil pemeriksaan terhadap uji sampel makanan yang diambil pasca kasus keracunan masal di Banjar Mudita. Walau belum bisa memastikan penyebabnya, Kepala Diskes Gianyar, Ida Ayu Cahyani menduga penyebab keracunan adalah nasi panas.

Baca juga:  Puluhan Warga Diduga Mengalami Keracunan Makanan

“Untuk kepastian belum, kami masih menunggu hasil Labkes dan BPOM (Laboratorium Kesehatan Badan Penanggulangan Obat dan Makanan, red) di Denpasar,” ujar Kadiskes.

Cahyani menyebut ada beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab Kejadian Luar Biasa (KLB) itu. Pertama, makanan itu pas panas dibungkus.

Faktor lainnya, setelah dihidangkan, makanan disantap dalam jeda waktu yang lama. “Dimakan jauh setelah dihidangkan, disantap malam. Hal itu yang diduga mempengaruhi kandungan makanan yang ada di dalam bungkusan, “ katanya.

Meski begitu, untuk kepastiannya, pihaknya masih menunggu hasil penelitian oleh Labkes di Denpasar.

Sementara itu, Kapolsek Sukawati, Kompol Pande Sugiharta, yang sebelumnya turun menelusuri kasus keracunan massal itu menyebut kasus murni musibah. “Kesimpulannya musibah, tidak ada unsur kesengajaan. Itu anaknya dagang juga ikut diopname kok, gimana dia mau sengaja,” tandasnya. (Manik Astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.