AMLAPURA, BALIPOST.com – Pancuran bisanya sengaja dibuat untuk memudahkan mengambil airnya. Namun pancuran yang ditemukan di Banjar/Desa Adat Temukus, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem ini tergolong tak biasa.

Air yang memancur muncul dari pilah tebing, air pancuran itu menjadi terkesan misterius karena baru muncul setelah Gunung Agung mengalami erupsi.
Pancuran yang diketahui secara tidak sengaja itu persisnya berada di tebing Tukad Dedari, di lereng Gunung Agung.

Fenomena alam itu pertama kali dilihat Bendesa Adat Temukus, I Nengah Sindia, Jumat (16/3) lalu. Saat itu Sindia datang ke Tukad Dedari untuk melukat (ritual membersihkan diri). Tukad Dedari sendiri memang sangat disakralkan karena terdapat banyak beji atau tempat pesucian Ida Batara.
‘’Pas Pengerupukan pagi. Airnya sangat jernih,’’ ujar Sindia, Senin (19/3).

Pihaknya memastikan air pancuran itu adalah pancuran baru karena sebelumnya tidak pernah ada. Dia mengaku sering datang ke lokasi tersebut namun baru saat Pengerupukan itu melihat pancuran yang muncul dari pilah tebing. ‘’Awalnya saya kira airnya panas, tapi ternyata sejuk sekali, malah terasa dingin,’’ ungkapnya.

Sindia menduga air pancuran itu panas karena lokasinya cukup dekat dengan kawah Gunung Agung, yaitu sekitar 4 km saja. Karena penasarah, Sindia tak hanya menyentuh air pancuran tersebut, tapi sempat meminumnya beberapa teguk. Dia mengatakan ada sensasi tak biasa ketika meminumnya.

Baca juga:  Bahasa Bali Dijadikan Mata Kuliah Penunjang, Ini Kendala PT

Sindia tak mau berandai-andai apalagi mengkait-kaitkan fenomena alam itu dengah hal yang bersifat gaib. Pihaknya mengaku akan menunggu perkembangan sampai satu bulan tujuh hari ke depan.

Jika air pancuran masih ada, dia akan mencoba menanyakan fenomena itu kepada orang pintar. ‘’Bisa jadi air itu muncul karena ada tekanan dari dalam, tapi bisa juga karena rembesan air hujan saja. Jika dalam abulan pitung dina (satu bulan tujuh hari) masih ada, saya akan coba bertanya kepada orang pintar,’’ ungkapnya.

Dikonfirmasi mengenai fenomena alam itu, Kepala Bidang Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), I Gede Suantika, mengatakan, kemungkinan pancuran itu berasal dari lapisan tanah permukaan akibat dari rembesan air hujan dangkal. Jika suhunya agak hangat maka kemungkinan berasal dari rembesan yang lebih dalam.

Itu merupakan fenomena biasa yang justru bagus karena ada sumber air baru. ‘’Tapi untuk memastikannya, akan ada tim dari Pos Pengamatan Rendang yang mengecek ke lokasi,’’ ucapnya. (kmb/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.