Pelaksanaan Tawur Tabuh Gentuh di Pura Besakih, Jumat (16/3). (BP/gik)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Menjelang pelaksanaan Catur Brata Penyepian, selalu dilaksanakan ritual Tawur Tabuh Gentuh di Bencingah Pura Basukihan, Pura Agung Besakih. Ritual Tawur Tabuh Gentuh digelar, Jumat (16/3) untuk nyomia bhuta kala, agar tercipta keharmonisan alam.

Ada yang unik di akhir pelaksanaan ritual ini. Pamedek yang sudah selesai sembahyang bersama, tiba-tiba menyerbu tempat ritual di Bencingah Pura Basukihan. Mereka ternyata berebut ajengan tawur dan tirta.

Situasi demikian membuat pemangku dan petugas kewalahan melayani serbuan ribuan pamedek yang datang dari berbagai daerah di Bali. Dalam sekejap, ajengan tawur yang berwarna-warni itu pun ludes dibagi-bagi kepada pamedek lengkap dengan tirtanya.

Pamedek rela saling dorong dan terjepit di tengah kerumunan warga hanya untuk memperolehnya. Walaupun hanya memperoleh sedikit, sekitar segenggam tangan saja, para pamedek ini sudah nampak lega sebagai bekal mereka pulang ke rumah.

Rupanya menurut keyakinan krama Bali, ajengan tawur ini sangat berguna untuk nyomia butha kala di pekarangan rumah, sebelum memasuki pelaksanaan Catur Brata Penyepian. “Yang penting sudah dapat sedikit, nanti dicampur dengan nasi tawur di rumah, baru disebar di pekarangan,” kata salah satu pamedek, Ni Luh Widiani.

Salah satu Pemangku di Pura Agung Besakih, Jro Mangku Suyasa, ditemui usai pelaksanaan ritual Tawur Tabuh Gentuh, mengatakan sebelum menjadi rebutan pamedek, ajengan tawur ini dicampur dengan berbagai macam campuran, kemudian dikumpulkan jadi satu di satu tempat.
Sebelum dipakai sarana ritual, Ida Pedanda Dwija Nugraha dari Gria Budakeling, Karangasem mapuja di sekitar lokasi tempat ajengan tawur tersebut di tempatkan. Jro Mangku Suyasa, menegaskan, ajengan tawur ini akan menjadi bhuta hita lebih dulu, kemudian setelah prosesi ritual, selanjutnya berubah dari bhuta hita menjadi dewa hita.

Baca juga:  Gelar Nyepi Adat, Warga Palaktiying Dilarang Terima Tamu

Ajengan tawur dari proses ritual Tawur Tabuh Gentuh inilah, selanjutnya disebar ke seluruh desa adat di Bali, kemudian diteruskan lagi dibagikan ke rumah-rumah warga untuk ditaburkan di pekarangan rumah. Tujuannya, untuk nyomia buta kala yang juga ada di masing-masing pekarangan rumah menjadi bhuta hita, sehingga memberikan keselamatan dan kerahayuan dalam melaksanakan Catur Brata Penyepian. “Seharusnya jangan sampai rebutan. Sebab, kalau mengambil ajengan tawur yang masih dalam bentuk bhuta hita, justru tidak baik. Sebaiknya biarkan dulu ritualnya hingga menjadi dewa hita dulu, sehingga pemanfaatannya tepat guna,” kata Jro Mangku Suyasa.

Melihat antusiasnya krama atau pamedek berebut ajengan tawur ini, petugas setempat dan para pemangku mulai memikirkan cara terbaik untuk membagikannya. Sebab, karena berebut, banyak pamedek lain yang tidak kebagian ajengan tawur.

Bahkan, ada yang dari jauh, khusus datang ke Besakih untuk memperoleh ajengan tawur, nyaris tidak dapat. Sebaiknya ke depan, menurut Jro Mangku Suyasa, sistem pembagiannya akan diubah. Krama akan diminta melakukan persembahyangan di luar areal lokasi ritual. Sehingga, ajengan tawur nantinya akan dibagikan setelah selesai proses persembahyangan. “Di dalam nanti biar pemangku dan petugas saja,” katanya.

Ajengan tawur ini menjadi rebutan warga, karena mereka sudah tahu manfaatnya. Jadi, setiap ritual Tawur Tabuh Gentuh menjelang Catur Brata Penyepian, pamedek yang tangkil pasti berebut nasi tawur dengan tirta. Tiap tahun jumlahnya makin banyak. Sehingga, nanti akan dipikirkan cara pembagiannya agar tidak sampai berebut dan pamedek lain kecewa tidak mendapatkan ajengan tawur. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.