DENPASAR, BALIPOST.com – Aparat kepolisian Polda Bali bekerjasama dengan Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation (JCLEC) menggelar simulasi penanganan teroris di Dermaga Timur Pelabuhan Benoa, Denpasar, Kamis (8/3). Terkait simulasi ini, menurut Kapolda Bali, Irjen Pol Dr. Petrus Reinhard Golose, pelaksanaannya berbeda dengan simulasi sejenis yang dilakukan di Bandara Ngurah Rai belum lama ini.

Ia mengatakan yang berbeda adalah semua prosedur dilakukan secara langsung atau alami. Ia mengatakan ada sejumlah koreksi untuk anggota kepolisian, namun ia menilai sudah berjalan baik. Terlebih ini pertama kalinya dilakukan di pelabuhan. “Secara keseluruhan ini bagus karena pertama kali dilakukan pelatihan di pelabuhan,” sebutnya.

Ia menegaskan berbicara tentang layanan kegawatdaruratan, semua stakeholder terlibat. Ada beberapa standard operating procedure (SOP) yang harus diikuti.

Baca juga:  Setelah Akasaka, Giliran Kafe Bibir Disegel

Sejumlah koreksi diutarakan Golose. Salah satu terkait penanganan korban yang dilakukan petugas ambulance. “Seharusnya mereka menolong korban dulu. Kalau korban ditinggal akan menyebabkan kematian,” paparnya.

Selain itu, terkait pasukan khusus antiteror dari Brimob Polda Bali. Tidak melakukan negosiasi tapi langsung eksekusi. “Mereka paling tidak harus melakukan negosiasi. Jika tidak, harus diingatkan sesuai UU harus menyerah. Ini hal-hal yang harus diikuti,” tegasnya.

Persiapan ini, lanjutnya, merupakan bagian dari persiapan untuk acara IMF-WB annual meeting yang akan diselenggarakan di Bali pada Oktober mendatang. Ia menekankan penanganan terorisme harus berdasarkan hukum dan kemanusiaan.

Polda Bali melakukan simulasi bekerjasama dengan JCLEC yang merupakan lembaga yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia dan Australia, dikelola Kepolisian RI dan Kepolisian Federal Australia (AFP). (Kerta Negara/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.