Pekerja memindahkan ikan Tuna dari kapal pengangkut menuju truk sebelum dibawa ke pengolahan. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pada Januari 2018, nilai ekspor barang asal Provinsi Bali yang dikirim lewat beberapa pelabuhan di Indonesia tercatat mencapai USD 53,2 juta. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 12,76 persen dibandingkan nilai ekspor bulan Desember 2017 yang mencapai USD 47,2 juta.

Kenaikan ekspor ini terutama disumbang oleh komoditi ikan dan udang dengan share 26,33 persen. Komoditi ikan dan udang kerap masuk 5 komoditas utama yang diekspor Indonesia.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Adi Nugroho mengatakan, ekspor Januari 2018 tercatat mengalami peningkatan sebesar 36,08 persen dari kondisi bulan yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD 39, 1 juta.

Sebagian besar ekspor pada bulan Januari 2018 ditujukan ke Amerika Serikat dengan presentase 25,82 persen dari total ekspor Bali. Selain itu negara tujuan ekspor Bali yaitu Tiongkok dengan persentase 9,27 persen, Australia 8,45 persen, Uni Emirat Arab 7,12 persen, Jepang 6,49 persen.

Lima komoditas utama yang di ekspor pada bulan Januari 2018 yaitu produk ikan dan udang sebesar 26,33 persen, pakaian jadi bukan rajutan 16,17 persen, perhiasan/permata 13,85 persen, produk kayu, barang dari kayu 8,57 persen, dan produk perabot, penerangan rumah 5,53 persen.

Baca juga:  Inflasi Agustus Terendah 4 Tahun Terakhir, Denpasar Lampu Merah

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali I Putu Astawa mengatakan, selain produk ikan dan udang, tahun ini ia akan menggenjot ekspor produk UMKM. Tahun 2018, ia menargetkan kenaikan ekspor dari produk UMKM 2,2 persen dari tahun sebelumnya.

Komoditi yang akan digenjot adalah kerajinan kayu logam, garmen, keramik, produk tanah liat. Karena menurutnya komoditi tersebutlah yang menjadi potensi Bali.

Upaya yang dilakukan untuk menggenjot produk UMKM adalah melakukan Bimtek dari aparat untuk meningkatkan kualitas mutu dari produk UMKM. “Itu salah satu bagian dalam upaya kita merebut pasar,” ujarnya.

Selain itu, ia juga memberikan kemudahan-kemudahan untuk prosedur ekspor. Yaitu mendorong penerapan SKA (surat keterangan asal). Penerbitan SKA yang sebelumnya secara konvensional, kini bisa dengan online. Sehingga dalam waktu sehari SKA bisa selesai. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.