bade
Suasana pembuatan bade di depan Puri Agung Ubud, Rabu (28/2). (BP/nik)

GIANYAR, BALIPOST.com – Berbagai persiapan palebon di Puri Ubud untuk A.A. Niang Agung sudah menjelang rampung. Pengerjaan Bade Gunung Tujuh untuk istri ke dua dari Tjokorda Gde Agung Sukawati juga rencanannya akan dituntaskan Kamis (1/3) hari ini. Hingga proses palebon menuju setra dalem puri, Ubud akan digelar Jumat (2/3).

“Kalau proses upacara sudah mau tuntas rasanya, baik itu bade maupun lembu, “ ucap penglingsir puri Ubud Tjokorda Gde Putra Sukawati, Rabu (28/2).

Berbagai rangkaian upacara pun sudah rampung dilaksanakan seperti nyiramin pada 15 Februari lalu. Sementara pada Rabu (28/2) malam kemarin diselengarakan uapcara mesalin untuk jenasah ibunda dari Cok Ace itu. “ Upacara mala mini seperti mengganti busana, lengkap dengan mengganti beberapa sarana prasarana yang dikenakan almarhum, “ jelasnya.

Selanjutnya berbagai persiapan juga akan dilaksanakan hari ini, seperti penuntasan pengerjaan bade tumpang Sembilan. Sementara pada jumat pagi akan digelar upacara mlaspas bade dan lembu. “ Hingga jumat siang sekitar pukul 12.00 wita kita akan mulai bergerak ke setra dalem puri,“ ucapnya.

Sementara itu undagi bade, Dr. Tjokorda Gde Raka Sukawati menjelaskan dalam pembuatan bade kali ini pihaknya memakan waktu sekitar 1,5 bulan, padahal waktu ideal membuat bade menurut dosen ekonomi Unud ini adalah 2 hingga 3 bulan. “ Kita berpacu dengan hari baik yang sudah ditentukan oleh pendeta dan disepakati oleh para penglingsir puri, “ ucapnya.

Selama pembuatan bade dengan tinggi mencapai 25 meter lebih ini, pria akrab sapaan Cok De ini dibantu oleh sejumlah seniman. Sementara ia sendiri selain juga sebagai undagi juga berperan sebagai kordinator. “ Karena dalam pembuatan bade ini harus satu komando, tidak bisa terpisahkan, “ jelasnya.

Baca juga:  Bunga Bangkai Tumbuh di Tegalan Warga Desa Sayan

Ia juga menjelaskan konsep bade secara fisik adalah alat mengantarkan jenasah almarhum ke kuburan. Bade dilengkapi dengan berbagai ornament Bali sebagai simbol semesta. “Jadi inilah yang dipersembahkan ke ibu, dengan simbol alam seperti binatang, macan, gajah dan lainya,“ jelasnya.

Penglingsir Puri Ubud, Tjokorda Raka Kerthyasa mengatakan akan ada ribuan krama yang terlibat saat prosesi palebon pada Jumat 2 Maret besok. Mereka berasal dari 10 desa pakraman dan 14 banjar. “Peran mereka terbagi-bagi, ada yang mengambil porsi bidang upakaranya ada bidang tabuh, jadi semua itu sesuai kebutuhan,“ katanya.

Khusus untuk pengusung bade menuju Setra Dalem Puri, itu terdiri atas 8 banjar meliputi Banjar Ubud Kaja, Ubud Kelod, Samban, Payogan, Junjungan, Bentuyung, Kutuh Kaja dan Kutuh Kelod. “ Sehingga nanti ada delapan estapet pengusung bade dari Puri Ubud, sementara lembu estapetnya empat kali, untuk bade kita hitung setiap 50 meter jadi maksimal 8 estapet, “ katanya.

Disinggung terkait busana paslon yang dikhawatirkan muncul saat hajatan budaya ini, Cok Ibah mengharapkan pemahaman para undangan untuk tidak mengenakan seragam paslon, sebab acara ini merupakan hajatan adat budaya bukan kegiatan politik. “Dalam hajatan ini kami tidak akan mengkondisikan mereka berpakaian ini atau itu, karena undangan kita pun banyak mereka dari berbagai level dinas dan adat, “ ucapnya.

Pihaknya sendiri sudah menyiapkan seraga khusus untuk para pengusung bade dan lembu. Bila ada yang diluar kostum masuk mengusung puri, maka pecalang akan segera mengambil tindakan. “ Yang tidak pakai kostum puri kita harus juga adakan komunikasi supaya tidak campur, terkiat warna kostum ya lihat nanti lah, “ ujarnya. (manik astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.