NEGARA, BALIPOST.com – Monumen Lintas Laut Jawa-Bali di Cekik, Gilimanuk merupakan salah satu tonggak mengenang sejarah peristiwa heroik pertempuran laut di Selat Bali. Peristiwa heroik “Pasukan-M” pimpinan Kapten Markadiyang membawa misi ekspedisi melintasi Selat Bali. Pasukan ini  membawa persenjataan guna membantu perjuangan kemerdekaan di Bali.

Pertempuran di tengah laut ini sangat berarti bagi TNI Angkatan Laut. Karena kisah operasi lintas laut Banyuwangi-Gilimanuk ini sejatinya merupakan operasi pendaratan gabungan pertama dalam sejarah TNI dan merupakan pertempuran laut pertama dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia. Setiap tahun, peristiwa ini diperingati di Monumen Operasi Lintas Laut. 

Bedasarkan informasi dari berbagai sumber saat peringatan beberapa waktu lalu, peristiwa ini terjadi tahun 1946. Heroik lantaran hanya berbekal sarana persenjataan yang serba terbatas, ekspedisi Pasukan-M menuai sejarah pertempuran yang gemilang.

Mereka mampu menempuh rute laut yang saat itu diblokade secara ketat oleh musuh dan berhasil menenggelamkan kapal Belanda. Cikal bakal nama Pasukan-M diambil atau disesuaikan dengan nama perwira yang membentuk sekaligus memimpinnya yaitu Pasukan Markadi (Pasukan M).

Kapten Markadi sebelumnya mengemban tugas mendampingi Kolonel Prabowo, Kolonel Munadji dan Letkol I Gusti Ngurah Rai ke Markas Besar TRI (Tentara Rakyat Indonesia) di Yogyakarta dalam upaya meminta bantuan kekuatan seiring semakin lemahnya kekuatan TRI Sunda Kecil di Bali.

Markas Besar TRI di Yogyakarta memutuskan memperkuat kekuatan TRI Sunda Kecil dengan bantuan senjata beserta amunisinya kepada pasukan I Gusti Ngurah Rai. Saat misi pengiriman kekuatan ke Bali inilah terjadi peristiwa pertempuran di Selat Bali.

Baca juga:  Polisi di Gilimanuk Gagalkan Penyelundupan Daging Ilegal

Dua perahu melawan kapal Angkatan Laut Belanda jenis LCM (Landing Craft Mechanized)  yang sedang patroli. Kapal-kapal patroli tersebut mendekat ke arah perahu yang ditumpangi Kapten Markadi dan meletuslah pertempuran laut.

Kapal Belanda yang menyerang dengan mitraliur berat jenisbrowning kaliber 12,7 mm, kalah dengan lemparan granat dari pasukan kapten M. Satu LCM meledak, dan satu LCM lainnya  melarikan diri dengan keadaan terbakar bagian dek dan lambung kapal ke arah Gilimanuk. Pertempuran yang berlangsung kira-kira 15 menit itu dicatat dalam sejarah sebagai Perang Laut Pertama dalam Sejarah RI.

Dalam pertempuran itu korban di pihak Pasukan-M satu orang gugur, Sumeh Darsono dan satu orang mengalami luka tembak, Tamali. Dari kisah heroik itulah atas inisiatif banyak pihak, pemerintah
berkenan membangun Monumen Operasi Lintas Laut Banyuwangi-Bali pada 4 April 1988.

Monumen dengan tugu yang berbentuk unik ini berada di Cekik, Gilimanuk. Sekitar empat kilometer arah Timur (menuju Denpasar) dari Pelabuhan Gilimanuk.  Selain tugu yang bisa dinaiki hingga ke bagian atasnya, kawasan monumen ini juga terdapat sejumlah ornamen meriam dan peluru. Monumen ini memiliki arti penting bagi negara maritim seperti Indonesia. Dengan begitu, para pewaris sah negeri ini diharapkan tidak kehilangan arah dan dapat menghargai pengorbanan para patriot. (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.