Mandolin
Penampilan Gita Bhaskara Etnik. dalam memainkan alat musik Mandolin, Rabu (14/2). (BP/san)

TABANAN, BALIPOST.com – Dibawa oleh salah satu warga Tionghoa dan diperkenalkan ke Tabanan, alat musik Mandolin jaman dulu cukup dikenal terutama di daerah Pupuan. Mandolin yang ada di desa Pupuan dulunya merupakan alat musik Tionghoa yang ditinggalkan pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1930 an.

Adapun yang mengembangkan alat musik ini adalah Ketut Lastra. Meninggalkanya Ketut Lastra menyebabkan penerusan alat kesenian yang awalnya berupa kecapi ini sempat berhenti. Sampai ada generasi yang kembali mengusungnya dan bergabung dalam Gita Bhaskara Etnik.

Salah satu personel Gita Bhaskara Etnik, I Made Gede Widiartawan, Rabu (14/2) mengatakan, alat musik mandolin yang ada di Desa Pupuan memang tidak terlepas dari peran I Ketut Lastra atau  yang dikenal sebagai Pan Sekar. ‘’Ia adalah orang pertama yang membuat mandolin di Desa Pupuan dengan mengubah bentuk asalnya dari alat musik petik sejenis kecapi menjadi seperti saat ini,’’ ujarnya.

Mandolin sendiri berasal dari kata Mandarin yang lama kelamaan berubah cara pengucapannya menjadi mandolin, karena alat musik tersebut dulunya sangat cocok dan sering dimainkan untuk membawakan melodi bernuansa mandarin.

Baca juga:  WNA Asal Jepang Ditemukan Meninggal

Seriring perkembangan jaman dan sentuhan I Ketut Lastra, mandolin saat ini menjadi alat musik yang tidak hanya memainkan nada-nada bernuansa mandarin tetapi nada yang lebih luas. ‘’Kami kemudian mengusung alat musik ini sebagai ciri khas group kami,’’ ujar Widiartawan.

Dulunya sebelum menjadi Gita Bhaskara Etnik, group musik ini bernama Bungsil Gading. Adanya potensi keunikan dari musik yang dihasilkan, Gita Bhaskara Etnik saat ini terjun ke dunia musik Bali. Bahkan saat ini grup musik ini sudah memiliki single bertajuk Full Moon.

Manajer Band Gita Bhaskara Etnik Anak Agung Ngurah Gede Arya Tenaya, mengatakan kehadiran group musik Gita Bhaskara Etnik bisa memberikan nuansa baru bagi dunia musik di Bali dan Indonesia pada umumnya.  “Karena yang menggunakan alat musik mandolin masih jarang dan itu menjadi ciri khas, ” terangnya. (wira sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.