SEMARAPURA, BALIPOST.com – Status Gunung Agung, Karangasem telah diturunkan dari awas ke siaga, Sabtu (10/2) pagi. Demikian pula radius bahaya erupsi dari enam kilometer menjadi empat kilometer dari puncak gunung.

Hal tersebut disambut syukur pengungsi di Kabupaten Klungkung, terutama yang tertampung di GOR Swecapura, Desa Gelgel. Hanya untuk kembali ke kampung halaman sebagian besar masih menunggu perkembangan situasi hingga besok.

Pengungsi asal Bukit Galah, Kecamatan Selat, Ketut Ganti (55) mengaku sudah mendapat informasi penurunan status gunung tertinggi di Bali itu. Tentunya, hal itu membuat kekhawatirannya akan kembali terjadi erupsi bisa berkurang. “Tetapi untuk pulang, menunggu dulu. Kalau sudah banyak pulang, ya ikut,” ucapnya.

Bersama keluarganya, ia sudah tinggal di pengungsian sekitar 4,5 bulan. Itu berlangsung sejak 21 September 2017, bertepatan status gunung naik dari siaga ke awas. Lama di pengungsian, keinginannya untuk kembali ke tanah kelahiran sangat besar. “Sudah lama di sini. Sangat jarang pulang,” katanya.

Baca juga:  Persawahan Subak Bolangan Alih Fungsi ke Cengkeh

Pengungsi asal Desa Sebudi, Wayan Suastini mengaku kepulangannya masih menunggu kabar dari keluarganya maupun pekembangan situasi gunung. “Kalau pulang, pulang. Katanya situasi di desa sudah tenang,” tuturnya.

Sejumlah pengungsi juga menyatakan kepulangannya masih menunggu informasi dari Pasebayan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klungkung, Putu Widiada menjelaskan perkembangan terakhir kondisi Gunung Agung sudah disampaikan ke pengungsi. “Untuk laporan pulang belum ada. Katanya masih menunggu perkembangam situasi,” jelasnya.

Mantan Camat Banjarangkan, Klungkung ini menegaskan jika ada pengungsi yang belum berani pulang, pemkab masih siap memberikan penanganan. “Sesuai intruksi pak bupati, kita tidak meminta untuk pulang. Kalau masih ingin di sini, silahkan. Begitu juga yang pulang, kalau perlu angkutan, kami upayakan memfasilitasi,” tandasnya.

Sesuai data terakhir, jumlah pengungsi mencapai 3.040 jiwa yang tesrebar di 30 desa/kelurahan. (Sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.