SEMARAPURA, BALIPOST.com – Pasien Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Klungkung yang hendak menjalani operasi masih harus menunggu dalam waktu cukup lama. Mengatasi hal tersebut, tahun ini dibangun gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS). Anggarannya mencapai Rp 20 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

Kasubag Humas RSUD Klungkung, Gusti Putu Widiyasa mengatakan memang antrean pasien untuk menjalani operasi mash tergolong lama. Namun demikian, ditegaskan rumah sakit tetap mengedepankan skala prioritas, dalam artian mengutamakan pasien yang sakitnya lebih parah. “Untuk operasi kan tergantung hasil pemeriksaan. Kalau dokter menyatakan segera untuk operasi, pasti ditangani duluan,” terangnya, Jumat (9/2).

Sementara itu, Direktur RSUD, I Nyoman Kesuma menyampaikan pembanguan IBS dipastikan berjalan tahun ini. Ditargetkan, 12 Februai sudah masuk Unit Lelang Pengadaan (ULP). Sesuai perencanaan, akan dibangun lima unit ruang operasi serta ruang sebelum maupun sesudah penanganan. Sementara untuk peralatannya, diberikan pemerintah pusat. “Dana hanya untuk pembangunan gedung saja,” sebutnya.

Baca juga:  RSUD Klungkung Terima Surviyor KARS Pusat Verifikasi Tahun II Akreditasi RS

Disampaikan pula, saat rapat pemantapan perencanaan, ada penyesuaian harga material. Pasalnya, yang tercantum sebelumnya masih mengacu pada 2017. “Tahun ini material pasir dan batu harganya meningkat. Ini sudah disesuaikan,” terangnya.

Sebelumnya, Sekretaris Komisi II DPRD Klungkung, I Wayan Buda Parwata menyatakanpembagunan yang dianggarkan cukup besar ini harus segera masuk ULP untuk mempercepat mendapatkan pemenang. Hal ini untuk menghindari pengerjaan molor. Secara otomatis berimbas pada menundaan pemanfaatan oleh masyarakat. “Perlu secepatnya masuk ULP untuk pelelangan,” ungkapnya.

Selan rumah sakit, proyek lain juga harus demikian. Menurut politisi Hanura ini, langkah percepatan pembangunan sudah terus dikampanyekan bupati.

Namun, hal tersebut dinilai belum mendapatkan aksi gayung bersambut dari OPD secara maksimal. Hal seperti ini menurutnya juga perlu diievaluasi. “Masa bupati sendiri yang berjalan cepat. Sedangkan bawahannya masih loyo kinerjanya. Malu dong. Ini harus jadi pertimbangan bupati dalam menilai kinerjanya,” tandasnya. (Sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.