tanaman
Petani padi di Desa Demulih, Susut saat memanen padinya lebih awal setelah rebah akibat cuaca buruk. (BP/nan)

BANGLI, BALIPOST.com – Curah hujan tinggi yang melanda wilayah Bangli dan sekitarnya sejak beberapa hari belakangan ini tidak hanya memicu terjadinya bencana tanah longsor dan pohon tumbang di sejumlah titik, namun juga membuat puluhan are tanaman padi milik warga rebah. Atas kondisi itu, memaksa sejumlah petani harus mendahului memanen padi mereka dari seharusnya.

Seperti yang dialami petani pada asal Banjar Demulih, Desa Demulih, Susut saat ditemui di sawahnya, Jumat (2/2) mengungkapkan, akibat curah hujan lebat disertai angin kencang yang melanda wilayahnya sejak beberapa hari belakangan ini membuat pulahan are tanaman padi miliknya rebah. Kondisi itupun memaksa dirinya harus memanen padinya lebih awal dari masa panen seharusnya.

“Padi milik saya yang rebah akibat cuaca ekstrem ini luasanya mencapai 12 are. Tanaman padi yang rebab umurnya baru sekitar 90 hari. Kalau cuaca normal padi belum layak dipanen. Karena masa panen setelah memasuki 105 hari. Kejadian ini baru yang pertama kalinya. Sebelumnya tidak pernah seperti ini. Karena sudah rebah seperti ini, terpaksa padi saya panen ketimbang dibiarkan seperti ini malah padinya bisa tambah rusak lagi,” ungkapnya sambil merabas padi.

Akiban kejadian ini, Kata Tagen sangat mempengaruhi hasil panen. Pasalnya, dengan kondisi sekarang ini bulir padi yang belum sepenuhnya sempurna, mengingat masih banyak bulir padi yang masih muda. Dirinya meyakini, hasil panen sekarang ini dipastikan merosot dari sebelumnya.

Baca juga:  Puluhan Hektar Padi di Subak Tegalalang Diserang Tikus

“Jika sebelumnya dengan luas lahan 12 are, saya mendapatkan sekitar 400 kg beras. Tapi sekarang belum bisa dipastikan akan dapat berapa kg beras. Kalau kondisinya seperti ini palingan hanya dapat setengah dari sebelumnya. Jadi, pada intinya merugi,”papar Tagen.

Selaian padi miliknya yang rebah akibat guyuran hujan disertai angina sejak beberapa belakanagn ini, petani lainnya juga mengalami hal serupa. Pulahan are padi petani lainnya juga sama seperti yang dialami dirinya. “Memang banyak padi meilik petani lainya juga rebah. Di uatara dan selatan uga ada rebah,” imbuhya.

Disinggung mengenai kapan kembali akan menanam padi lagi?, Tagen menegaskan jika dirinya belum bisa memastikan kapan kembali akan menanam padi. Disamping itu cuaca juga masih kurang bersahabat.

Hal senada juga diutarakan petani lain I Nengah Wijaya. Dirinya juga memanen padinya lebih awal seluas 50 are lantaran sudah rebah akibat cuaca ekstrim yang terjadi sejak beberapa hari belakang ini.  Kondisi ini, lanjut Wijaya sangat mempengaruhi hasil panen. “Sekarang jelas hasil panennya juah merosot. Kalau saya lihat merosot sampai 50 persen,” ucapnya. (eka prananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.