Kepala BPS Bali Adi Nugroho. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pada triwulan IV 2017, secara triwulan (qtq) pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro kecil (IMK) menurun 4,53 persen dibandingkan triwulan III 2017. Demikian juga secara tahunan (yoy), pertumbuhan IMK menurun 3,86 persen dibandingkan triwulan IV 2016.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Adi Nugroho memaparkan, jika dibandingkan dengan nasional juga menurun pada tingkat yang lebih rendah yaitu 0,21 persen. Sehingga IMK di Bali dan nasional secara qtq mengalami penurunan produksi.

Meski pertumbuhan IMK menurun, namun tidak semua kelompok IMK mengalami penurunan. Karena ada industri makanan yang tercatat mengalami kenaikan. Selain itu industri barang dari kertas dan industri kertas, industri barang logam bukan mesin, dan peralatannya mengalami kenaikan masing-masing 0,81 persen, 3,76 persen, dan 3,79 persen.

Secara yoy, pada triwulan IV 2017, IMK Bali tercatat mengalami penurunan 3,86 persen dibandingkan triwulan IV 2016 yang tercatat 10,88 persen. Sedangkan secara yoy, pertumbuhan IMK nasional mengalami kenaikan 4,59 persen. “Padahal pada triwulan IV 2016, Bali mencatat kenaikan lebih kuat dari kenaikan nasional yang ketika itu 10,88 persen. Sementara di nasional hanya naik 4,88 persen. Sekarang situasinya berbalik. Ketika nasional bertahan pada tingkat pertumbuhan 4,59 persen, Bali turun 3,86 persen,” bebernya.

Penurunan IMK secara yoy disumbang oleh industri makanan, industri kulit. Namun juga ada IMK yang mengalami kenaikan secara yoy. Yaitu industri pakaian jadi, industri kertas dan barang dari kertas, industri barang logam bukan mesin. “Dua kelompok ini (industri kertas dan barang dari kertas serta industri barang logam) secara qtq meningkat, secara yoy juga meningkat,” ungkapnya.

Pertumbuhan industri manufaktur besar sedang (IBS) pada triwulan IV 2017 mengalami kenaikan 1,52 persen dibandingkan triwulan III 2017 (qtq). Sedangkan secara tahunan (yoy) IBS pertumbuhan IBS menurun 2,02 persen. “Pada saat Bali tumbuh positif, ternyata nasional tumbuh negatif atau turun 0,59 persen secara qtq. Berbeda dengan sebelumnya, ketika Bali tumbuh 0,66 persen, nasional tumbuh 0,99 persen. Sekarang ketika Bali tumbuh 1,52 persen, ternyata nasional turun 0,59 persen,” pungkasnya.

Baca juga:  Pertumbuhan Ekonomi Bali 2017, Terendah dalam 6 tahun Terakhir

Kenaikan IBS Bali pada triwulan IV 2017 secara qtq disumbang oleh industri minuman 6,14 persen, industri tekstil 4,27 persen, industri pakaian jadi 4,47 persen, industri kayu, barang dari kayu dan gabung, dan barang anyaman dari bambu 9,29 persen, industri furnitur 17,08 persen, industri pengolahan lainnya 7,45 persen. Hanya industri makanan yang mengalami penurunan yaitu 4,45 persen.

Pertumbuhan produksi IBS Bali secara yoy turun 2,02 persen, berbalik dengan situasi nasional yang tumbuha positif 5,15 persen. Situasi ini sejalan dengan triwulan IV 2016, ketika pertumbuhan produksi IBS nasional mengalami kenaikan 2,06 persen, sementara Bali mengalami penurunan 6,58 persen.

Berdasarkan klasifikasi baku lapangan usahanya, penurunan produksi IBS Bali secara yoy disumbang oleh turunnya produksi dari industri makanan 1,77 persen, industri pakaian jadi 8,43 persen, industri furnitur 11,69 persen, dan industri pengolahan lainnya juga turun lebih dalam 21,96 persen.

Namun juga ada kelompok lapangan usaha IBS yang produksinya mengalami kenaikan. Yaitu industri minuman 2,25 persen, tekstil 11,93 persen, industri kayu, barang dari kayu dan gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya juga mengalami kenaikan yaitu 4,09 persen.

Sementara itu jumlah IBS di Bali mengalami kenaikan signifikan 62,50 persen dari tahun 2015 ke 2016. Pada tahun 2015 jumlah IBS di Bali hanya tercatat 280 perusahaan sedangkan pada tahun 2016 jumlah IBS menjadi 455 perusahaan. Perusahaan tersebut lebih banyak berada di Denpasar dengan jumlah 205 perusahaan pada tahun 2016. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.