JAKARTA, BALIPOST.com – Di tengah upaya Indonesia mengeleminasi kusta, kasus baru terus bermunculan. Meskipun angka tersebut terus mengalami penurunan.

Direktur Pencegahan Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Wiendra Waworuntu mengatakan kasus penyakit kusta masih ditemukan di Indonesia bagian timur dengan prevalensi lebih dari 1 kasus per 10 ribu penduduk. “Di wilayah Jawa bagian timur, Sulawesi, Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara,” kata Wiendra di kantor Kementerian Kesehatan Jakarta, Selasa.

Secara nasional angka prevalensi kusta saat ini adalah 0,71 kasus per 10.000 penduduk dengan total 18.248 kasus terdaftar. Meskipun demikian, Wiendra menekankan bukan berarti kasus kusta tidak ditemukan di provinsi lainnya.

“Kasus kusta diharapkan semakin sedikit, semakin hilang. Tidak dipungkiri pasti kusta masih ada, tetapi catatannya adalah jangan sampai ada penularan kasus baru dan penderita kusta jangan sampai cacat. Itu upaya kita,” terang Wiendra.

Menurut Wiendra salah satu yang dilakukan untuk mengeleminasi kusta adalah melalui survalensi yang ketat, baik untuk daerah yang prevalensinya tinggi maupun di bawah 1. “Survalensi harus ketat melakukan deteksi dini pada penderita kusta, tentunya dengan pendekatan ke keluarga,” paparnya.

Baca juga:  Kusta Masih Jadi Stigma, Penderita Malu Didata

Kusta atau yang dikenal dengan lepra merupakan penyakit yang disebabkan kuman mikrobakterium leprai yang menyerang kulit dan saraf tepi. Gejala penyakit kusta adalah keberadaan bercak putih atau merah di kulit. Bercak tersebut tidak gatal dan juga tidak nyeri, namun seperti mati rasa.

Bercak seringkali ditemukan di bagian siku, karena terdapat syaraf yang dekat dengan permukaan kulit. Namun bercak juga biasa ditemukan di sekitar tulang pipi wajah, telinga, atau bahu.

Selain itu, ada penderita yang menunjukkan gejala berupa bintil kemerahan yang tersebar, ada pula yang gejalanya kulit sangat kering namun tidak berkeringat dan rambut alis rontok sebagian atau seluruhnya.

Sebagian besar penderita pada awalnya tidak merasa terganggu, meski kadang disertai kesemutan, nyeri sendi dan demam hilang timbul apabila mengalami reaksi. (kmb/balitv)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.