Bupati Anas saat mengunjungi Grand Watu Dodol, Banyuwangi. (BP/udi)

BANYUWANGI, BALIPOST.com – Kualitas pariwisata Banyuwangi makin diakui internasional. Terbaru, kabupaten tetangga Bali ini menyabet juara kawasan wisata bersih tingkat ASEAN.

Pesisir di barat selat Bali ini mampu menyisihkan kawasan pantai lain di Asia Tengggara. Selain kebersihan, keterlibatan masyarakat dalam mengelola obyek pariwisata menjadi penilaian khusus. Sehingga kawasan wisata bisa tumbuh, menyedot wisatawan.

Pesisir yang mendapatkan penghargaan bergengsi ini adalah Grand Watudodol (GWD) dan Bangsring Under Water. Kawasan wisata di utara Banyuwangi ini kini tumbuh dengan pesat setelah masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan.

Salah satunya, menjaga kebersihan dan konservasi terumbu karang. Dahulu, warga setempat memilih menggunakan bom untuk berburu ikan. Kini, mereka melestarikan terumbu karang dan menjadikan pantai sebagai kawasan wisata menarik. “Program pemberdayaan masyarakat dalam pelestarian laut dan pengelolaan wisata yang membuat kita mendapatkan penghargaan juara tingkat ASEAN,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas disela sidak di kawasan wisata GWD, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Minggu (28/1). Penghargaan diserahkan di Thailand, Jumat (26/1).

Dijelaskan, ada 108 indikator hingga Banyuwangi menyabet kategori kawasan wisata bersih. Semua ini, kata Anas, setelah masyarakat dilibatkan dalam pengembangan dan pengelolaan pariwisata.

Baca juga:  Menpar Arief Yahya "Mencuri" Award di Kandang Thailand

Dia mencontohkan kawasan wisata GWD yang dikelola Kelompok Sadar Wisata. Mereka diajak mengelola sekaligus menjaga kebersihan kawasan wisata.

Hanya, imbuh Bupati, kesadaran wisatawan menjaga kebersihan wisata harus ditumbuhkan. Anas menambahkan, pihaknya akan membuat aturan bagi pengunjung wajib menyewa tas sampah. Lalu, menyerahkan uang jaminan Rp 25.000.

Tas itu akan digunakan menyimpan sampah pengunjung sendiri. Setelah pulang, tas akan diserahkan ke petugas, uang jaminan dikembalikan. ” Ini akan kita coba, agar masyarakat bisa peduli menjaga kebersihan.

Selain itu, pihaknya menambah tenaga menghadapi fenomena sampah kiriman dari laut. “Kalau sampah kiriman, fenomena semua daerah yang punya laut. Bali juga begitu. Kita harus kerahkan tenaga esktra jik ada kiriman sampah,” jelasnya.

Khusus di wisata GWD kata Anas, penataannya melibatkan arsitek nasional. Dibuat mirip Barcelona. Lokasinya juga strategis. Di jalur pantai utara yang menghubungkan pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. “Kita sengaja mengembangkan pantai ini. Selain wiew-nya selat Bali, lokasinya bisa menjadi rest area wisatawan dari Jawa ke Bali,” pungkasnya. (Budi Wiriyanto/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.