Dadong Soring tinggal di gubuk reot sebatang kara. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Angka pengangguran di Bali tercatat paling rendah di Indonesia. Jumlahnya hanya 1,48 persen dari total penduduk Bali yang sekitar 4,2 juta jiwa. Tapi, hal ini tidak menjamin penduduknya bebas dari kemiskinan.

Saat ini, Bali masih mengantongi 4,14 persen penduduk miskin atau sekitar 176.480 orang. Padahal, 70,25 persen dari jumlah penduduk miskin itu sebetulnya sudah bekerja. “Untuk kondisi bulan Maret 2017, ternyata penduduk miskin untuk wilayah Bali, 70 persennya sudah bekerja. Sekalipun ternyata masih miskin,” ujar Kepala BPS Provinsi Bali, Adi Nugroho dalam Rapat Kerja Evaluasi Program Pembangunan Provinsi Bali Semester II Tahun 2017 di Wiswa Sabha, Kantor Gubernur Bali, Selasa (23/1).

Menurut Adi Nugroho, persentase penduduk miskin yang sudah bekerja ini sebetulnya menurun bila dibandingkan Maret 2016 sebesar 95,13 persen. Imbasnya, jumlah penduduk miskin yang tidak bekerja tahun 2017 naik menjadi 29,75 persen bila dibandingkan tahun 2016 sebesar 4,87 persen. Selain itu, komposisi penduduk miskin juga diisi oleh lulusan diploma dan sarjana.

“Ternyata diantara penduduk yang terhitung miskin di Bali, ada 4,03 persen mereka berijazah diploma perguruan tinggi dan bahkan ada 4,58 persen yang berijazah sarjana,” jelasnya.

Baca juga:  Gubernur Bali Bertemu Konsul, Berikan Kepastian Bali Masih Aman

Adi Nugroho menambahkan, penduduk dengan ijazah rendah seperti SD lebih bisa tertampung di lapangan kerja. Itu sebabnya, angka pengangguran terbuka untuk tingkat pendidikan SD ke bawah kurang dari 1 persen. Atau lebih rendah bila dibandingkan dengan persentase lulusan perguruan tinggi yang menganggur. “22,96 persen dari mereka yang bekerja ternyata setengah menganggur, jam kerjanya sangat sedikit. Ada potensi yang tidak termanfaatkan diantara mereka, disamping mereka yang benar-benar menganggur, belum mendapat pekerjaan,” imbuhnya.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menggarisbawahi 70 persen masyarakat miskin yang ternyata bekerja. Menurutnya, kualitas pekerjaan yang ditekuni masyarakat miskin itu tidak benar sehingga tidak menghasilkan uang yang cukup. “Mereka kerja sebenarnya, tapi miskin. Saya lihat orang yang kerjanya mecah batu di Karangasem dari pagi sampai sore, capek dia kerja, tapi hasilnya cuma sedikit. Berarti dia tidak bekerja cerdas itu,” ujarnya. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.