pengungsi
Pengungsi saat menunjukkan atap bangunan yang bocor di Posko Induk di Kelurahan Kubu, Bangli. (BP/nan)

BANGLI, BALIPOST.com – Atap bangunan yang ditempati para pengungsi erupsi Gunung Agung di Posko Induk TK/SD Internasional di Kelurahan Kubu,Bangli bocor. Atas kondisi itu, ketika hujan lebat turun air masuk ke dalam dan membasahi lantai.

Pengungsi asal Banjar Kesimpar, Desa Besakih, Rendang, Karangasem, I Nengah Suwanda, Jumat (19/1), bocor di gedung Bima II, telah terjadi sejak lama semenjak awal dirinya menghuni posko tersebut pada 4 bulan lalu.

“Kala itu, penghuni di Gedung Bima masih cenderung padat. Sebab masih dihuni pengungsi lain dari Banjar Keladian, Desa Muncan, dan Banjar Kesimpar. Sedangkan bocornya tepat di bagian selatan ruangan,” ungkapnya.

Menurut Nengah Suwanda, kebocoran di Gedung Bima II terjadi disebabkan akibat posisi genting yang bergeser. Sehingga setiap turun hujan dengan intensitas tinggi, Gedung mengalami kebocoran. Bocor yang terjadi bertepatan dengan posisi tempat dia tidur. “Kalau hujan lebat saya sampai pindah tempat karena bocor,” ujarnya.

Terkait kebocoran Gedung Bima II, Nengah Suwanda mengaku sudah sempat melaporkan pada pihak pokso. Bahkan sudah sempat akan dilakukan perbaikan. Namun, kala itu, upaya perbaikan bertepatan dengan penuruan status Gunung Agung ke Level III (Siaga). Sehingga perbaikan batal dilakukan, lantaran banyak pengungsi yang memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

Baca juga:  70 Persen Debitur Terdampak Erupsi Gunung Agung Tetap Penuhi Kewajibannya

“Sekarang yang masih sisa disini (Gedung Bima II) hanya 6 KK atau sebanyak 20 jiwa, sehingga kami pindah barang-barang ke tempat yang aman dari bocor,” tutur Suwanda sembari berharap ada perbaikan.

Pengungsi asal Banjar Angsoka, Desa Besakih, Ni Kadek Kepir mengungkapkan bahwa kebocoran tidak hanya terjadi pada satu titik. Kata dia di Gedung Bima I terdapat empat titik kebocoran dan yang paling deras berada di tengah ruangan. “Tadinya di tengah ada yang menempati. Tapi karena bocor, akhirnya dia pindah,” ucapnya.

Meski kadang kala terjadi kebocoran saat hujan deras, kata Kepir masih bisa diatasi dengan menaruh ember dan kain. “Berbeda saat mengungsi di Rendang, Karangasem. Saat hujan tiba, karpet, bantal dan guling semuanya basah,” imbuhnya. (eka prananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.