Plh Kepala Rutan Gianyar menunjukkan keben hasil karya narapidana. (BP/nik)

GIANYAR, BALIPOST.com – Puluhan narapidana di Rutan Kelas II B Gianyar memiliki kreativitas tinggi. Buktinya, kini mereka aktif membuat kerajinan keben.

Bahannya pun dari kertas koran sehingga merupakan produk daur ulang. Pesanan keben buatan napi ini, dikatakan Plh Kepala Rutan Gianyar, Made Astra, cukup tinggi.

Bahkan, tak jarang para narapidana kewalahan memenuhi pesanan. Selain hasilnya yang dijamin kuat, kerajinan ini pun nampak menarik dengan tambahan ornamen bentuk buang hingga tapel barong.

Astra mengatakan keben tersebut sekilas memang nampak seperti bahan bambu. Namun bila diperhatikan lebih teliti, karya ini memang dari lintingan koran. “Keben karya para napi ini terbuat dari kertas koran berwarna dalam satu terbitan,” ucapnya saat ditemui Rabu (17/11).

Dijelaskan cara membuat keben ini gampang-gampang susah. Awalnya untuk satu halaman koran dipotong menjadi empat bagian dulu. Lalu per bagian dilinting mirip lidi. “Lintingan ini kemudian dirangkai, ditempel-tempel pakai lem. Awalnya bikin alas dulu, baru lingkarannya,” jelas Astra yang merangkap sebagai Kasubit Perawatan Tahanan Rubasan Kanwil Hukum dan HAM Bali itu.

Diakui, penemuan ini dibuat oleh mantan napi yang sudah bebas. Sekarang ilmunya sudah diturunkan ke napi yang masih ada di sini. Astra memastikan semua napi di Rutan Gianyar bisa membuat karya ini.

Baca juga:  Tiga Napi Pesta Sabu Dalam Lapas Buleleng

Hasil karya para napi ini tak hanya keben dari koran saja, ada ornamennya. Mereka yang punya kelebihan mengukir, membuat ukiran barong lalu ditempel di keben. Ada juga yang membuat bentuk menyerupai bunga. Setelah jadi, keben ini dicat. Dan untuk finishing, diberikan pernis untuk memperkuat ketahanan warna dan antiair.

Dikatakan pejabat asal Pecatu, Kabupaten Badung itu, napi sengaja menonjolkan serat koran. Astra mengaku, upaya ini sebagai bentuk menghilangkah jenuh para napi. “Semua napi bisa membuat keben ini, tidak memandang dari kasus apa, mereka semua mengisi waktu,” ungkapnya.

Seperti diketahui, di Rutan Gianyar ada empat napi kasus pembunuhan di Dentiyis, Desa Batuan yang merupakan anggota ormas. “Oh ya beberapa dari pelaku dari kasus itu memang masih ditahan di sini, dan mereka malah rajin sekarang. Mereka mau menurut dan juga bisa membuat keben ini,” ungkapnya.

Disinggung terkait produksi keben ini, Astra mengaku semua sesuai dengan pesanan. Setiap ada pesanan langsung dicarikan bahan. Lalu hasil jualan keben ini juga kembali ke napi. Mengenai harganya mencapai Rp 150 ribu. Itu pun tergantung tingkat kerumitan seni yang dibuat. (Manik Astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.