Petani memperlihatkan cabai yang terserang hama karena musim hujan tahun ini. (BP/udi)

BANYUWANGI, BALIPOST.com – Hujan lebat yang mengguyur kawasan Banyuwangi, Jawa Timur, beberapa pekan terakhir membuat petani cabai mengeluh. Hama cacar menyerang. Mereka terancam gagal panen.

Tak ingin merugi, petani memilih panen lebih awal. Kondisi ini masih diperburuk dengan harga cabai yang murah, hanya Rp 5000 per kilogram. Selain cacar, akibat cuaca, ukuran buah cabai tak bisa maksimal. Banyak buah yang kerdil. Sehingga, berdampak anjloknya hasil panen. “Biasanya, sekali panen bisa 6 ton per hektare, sekarang, 1 ton agak susah,” keluh Kholid (40), petani cabai merah di Desa Pondoknongko, Kecamatan Kabat, Rabu (17/12).

Pria ini menjelaskan, hama cacar muncul setelah hujan lebat yang sering turun. Akibat hama ini, tanaman cabai menjadi layu. Daunnya berubah kecoklatan. Lalu, ukuran buah tak maksimal.

Agar tak merugi, buah cabai yang belum mulai memerah terpaksa dipanen lebih awal. “Kalau tidak segera dipanen, buahnya akan membusuk. Kita akan rugi lebih besar,” jelasnya.

Baca juga:  Produksi Cabai Petani Klungkung Merosot, Pasokan Andalkan Daerah Luar

Sejak munculnya hama, kata Kholid, pihaknya sudah menggunakan beragam cara untuk menanggulanginya. Namun, hasilnya nihil. Sebab, hujan lebat tak kunjung mereda. Sehingga, insektisida dan obat semprot yang digunakan terkesan percuma. “Habis kita semprot, hujan turun lagi. Jadi, obatnya tak mempan,” keluhnya lagi.

Akibat kualitas buah yang jelek, harga juga ikut anjlok. Buah kualitas terbaik hanya tembus Rp 35.000 per kilogram. Sedangkan kualitas sortir hanya Rp 5.000. Kondisi ini membuat petani terancam merugi. “Kalau hasil panen maksimal, dengan harga Rp 35.000, kami masih bisa kembali modal. Tapi, karena terserang cacar, kita bisa-bisa bangkrut,” tegasnya.
Jika cuaca membaik, sekali musim panen, bisa menghasilkan Rp 100 juta. Kini, akibat hama cacar, hasil panen hanya sekitar Rp 20 juta. Sedangkan biaya tanam lebih dari Rp 25 juta per seperempat hektar.

Selain panen lebih awal, menghindari kerugian lebih banyak, petani memilih mengganti tanaman cabai yang terserang hama. (Budi Wiriyanto/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.