SINGARAJA, BALIPOST.com – Pengungsi dampak erupsi Gunung Agung yang sebelumnya tercatat hingga 9.000 jiwa. Belakangan jumlahnya terus berkurang.

Sekarang tercatat tinggal 3.000 jiwa pengungsi asal Desa Ban dan Desa Dukuh saja yang bertahan di beberapa tempat penampungan pengungsi di Buleleng. Sementara, lebih dari setengahnya pengungsi pulang ke desa asal mereka dengan mandiri.

Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Pengungsi Gunung Agung yang juga Asisten Bidang Tata Pemerintahan Setda Buleleng Made Arya Sukerta, SH. di sela-sela menghadiri undangan kunjungan kerja (Kunja) Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jendral TNI Mulyono ke Batalyon Yonif 900 Raider SBW Jumat (11/1) mengatakan, pengungsi mulai berkurang sejak keputusan pemerintah menurunkan radius berbahaya menjadi enam kilometer. Sejak itu, sekitar enam ribu jiwa pengungsi sudah meninggalkan Buleleng dan mereka kembali ke kampung halaman di Karangasem.

Selain karena keinginan pengungsi, melalui camat dan perbekel desa, Satgas menginformasikan keputusan pemerintah yang menurunkan jarak radius aman erupsi Gunung Agung. Sekaligus satgas mempersilahkan pengungsi yang ingin pulang ke kampung halamannya.

Akan tetapi pengungsi yang memang tidak yakin dengan situasi aman itu, satgas juga mempersilakan untuk tetap bertahan di tempat penampungan. “Sekarang tinggal tiga ribu jiwa dan sudah banyak yang pulang. Kita bukan ngusir, tapi kita sampaikan kepada pengungsi bahwa kebijakan pemerintah menurunkan radius berbahaya dampak erupsi itu,” katanya.

Baca juga:  Wisman di Ubud Ikut Kampanye "Bali is Save"

Mantan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) ini menambahkan, pengungsi yang masih bertahan di tempat pengungsian terbanyak di Kecamatan Tejakula. Sisanya menyebar di delapan kecamatan lain. Pengungsi ini didominasi dari Desa Ban dan Dukuh yang memang dari historis erupsi Gunung Agung 1963 silam juga banyak mengungsi ke Tejakula dan sekitarnya.

Karena pengalaman itu, antara Buleleng dengan dua desa di Karangasem itu seperti ada jalinan emosional, sehingga sejak Gunung Agung erupsi, warga Desa Ban dan Dukuh tidak sulit untuk berinteraksi dengan warga di Tejakula. “Ban dan Dukuh ini seperti ada jalinan emosional dengan warga kita di Tejakula dan sekitarnya. Dan erupsi yang sekarang pengungsi ini tidak sulit untuk berbaur dengan warga kita sendiri,” jelasnya.

Meski setengah lebih pengungsi sudah kembali pulang. Namun Satgas Penanggulangan Pengungsi Gunung Agung tetap menyiapkan stok logistik terutama beras, lauk pauk, dan perlengkapan rumah tangga lain.

Khusus beras dan lauk pauk, Dinas Sosial (Dinsos) mengandalkan stok sumbangan beras dari donatur atau relawan dan juga dibantu dengan pasokan cadangan beras pemerintah (CBP). Sementara lauk pauk dan perlengkapan rumah tangga, sejauh ini ditutupi dari hasil pengumpulan sumbangan donatur atau relawan yang peduli untuk meringankan beban penderitaan pengungsi. (Mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.