tanaman
Petani saat membersihkan penyakit diplodia pada tanaman jeruk. (BP/nan)

BANGLI, BALIPOST.com – Memasuki musim penghujan, sejumlah tanaman sangat rentan diserang penyakit. Tapi di sisi lain juga bisa memberikan berkah kepada petani lantaran tanaman yang ditanam tidak kekeringan. “Musim hujan bisa membawa berkah pada petani dan juga bisa memberikan petaka,”ujar Sekdis  Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (PKP)  Bangli  I Wayan Sarma di dampingi Kabid Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, I Nyoman Sarya, Kepala Seksi Perlindukan Tanaman  I Wayan Sentana dan  Kepala Seksi Hortikultura Ni Made Yusri Merta Wahyuni saat ditemui, Selasa (9/1).

Sarma menambahkan, untuk tanaman padi penyakit yang biasanya muncul adalah penyakit blas dan serangan tungro. Sementara untuk tanamana hortikultura adalah mengganasnya serangan penyakit diplodia, baik yang kering maupun basah. Biasanya penyakit diplodia ini lebih banyak menyerang tanaman jeruk.

“Untuk serangan blas sesuai data yang didapat akhir Desember 2017, lahan padi yang diserang mencapai 2 hektar, semuanya ada di Kecamatan Susut. Sementara untuk serangan penyakit diplodia menjangkiti  4.849 pohon, dari 3 juta pohon jeruk yang ada di Bangli yang lebih dominan di wilayah Kintamani. Mengingat pengembangan kebun jeruk paling banyak disana,” imbuhnya.

Menurut Sarma, penyebab serangan penyakit tunggro, blas yang menyerang tanaman padi ini lebih banyak lantaran kurang bagusnya sanitasi lahan. Pasalnya, kelembaban terlalu tinggi sehingga menyuburkan pertumbuhan jamur.

Baca juga:  Curah Hujan Mulai Tinggi, Ini Daerah Rawan Longsor dan Pohon Tumbang di Bangli

Sementara penyebab penyakit diplodia, lanjutnya, juga diakibatkan kurang bagusnya pengolahan lahan dan jarak penanaman jeruk terlalu mepet. Idealnya jarak penanaman jeruk adalah 4 X 4 meter, sementara petani kebanyakan memakaskan jarak 2,5 X 2,5 meter.

“Hal ini menyebabkan kelembaban lahan terlalu tinggi, sementara ketersediaan unsur hara sedikit sehingga menyebabkan tanaman mudah terserang penyakit. Padahal kita di lapangan sudah memberikan pemahaman kepada petani supaya, bisa mengikuti arahan yang kita berikan. namuan petani tetap saja membandel dengan alasan biar lebih banyak dapat menanam jeruk,” tegasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, penyakit diplodia bisa diatasi dengan memperbaiki sanitasi lahan lewat menjarangkan jarak tanam, melakukan pemangkasan dan mengurangi pemakaian pupuk organik berupa kotoran ayam basah. Disamping itu, penyakit ini juga bisa dicegah dengan mengoleskan bubur kalifornia.

Bubur ini, jelas dia, dibuat oleh petani dengan campuran belerang, kapur dan air. Namun jarang petani yang mau memakainya, karena mereka harus mengupas kulit batang yang kena penyakit ini. “Mungkin ongkosnya terlalu tinggi, karena serangan penyakit kan tidak satu pohon,” pungkas Sarma. (eka prananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.