bantuan
nelayan. (BP/dok)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Aktifitas penangkapan ikan tradisional di Buleleng belakangan mulai terganggu. Menyusul cuaca laut yang mulai memburuk. Bahkan, beberapa hari terakhir, nelayan enggan melaut karena angin kencang disertai gelombang tinggi. Tidak menutup kemungkinan, situasi ini akan memicu pasokan ikan segar ke pasar tradisional dan restoran di Buleleng berkurang dibandingkan saat cuaca normal.

Pantauan di lapangan Selasa (26/12), aktifitas nelayan tidak seramai biasanya. Sejak hujan deras dan angin kencang, nelayan memilih diam di rumah. Mengisi waktu tidak melaut, mereka sesibuk memperbaiki peralatan tangkap dan memindahkan perahu agar tidak dihempaskan gelombang laut. Namun demikian, nelayan ada juga yang memilih beristirahat di masa paceklik. Kalau sewaktu-waktu cuaca laut normal, nelayan di Bali Utara nekat untuk mengadu nasib memancing atau menjaring ikan di lautan lepas. Hanya saaja, keputusan melaut di musim cuaca ekstrim sekarang ini harus dipertimbangkan matang untuk menghindari terjadinya hal yang tidak mereka inginkan.

Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Segara Gunung, Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng Made Suena ditemui mengatakan, dari puluhan anggotanya beberapa diantaranya memilih tidak melaut karena cuaca buruk. Situasi ini tidak bisa dihindari karena sudah menjadi siklus setiap tahun. Sejak anggotanya tidak melaut, otomatis pendapatakannya turun dibandingkan hari biasanya.

Meski demikian, anggotanya sudah mempersiapkan cadangan dana untuk kebutuhan keluarga di masa peceklik ini. “Kalau pun masih melaut anggota kami masih harus melihat cuaca karena bulan ini dan memasuki Januari hingga Februari 2018 nanti cuaca laut akan bertambah buruk,” katanya.

Baca juga:  Pariwisata Terpengaruh Aktivitas Gunung Agung, Pengusaha Diminta Jangan Korbankan Pekerja

Menurut Suena, puluhan anggotanya itu selain melakukan penangkapan dengan mancing dan jaring, sesekali mereka juga mengantarkan wisatawan untuk melihat atraksi Dolphin atau snorkeling melihat taman terumbu karang di tengah laut. Usaha ini pada cuaca normal mampu memberikan penghidupan untuk anggotanya. Dia mencontohkan, kalau kondisi “mujur” anggotanya bisa membawa satu hingga dua kwintal ikan segar.

Pada saat cuaca normal, anggotanya sudah terbiasa untuk menyisihkan pendapatannya untuk digunakan saat cuaca buruk seerti sekarang ini. Tak heran kalau di musim cuaca buruk, kendati tidak melaut, namun anggotanya tetap bisa menghidupi keluarga hingga biaya sekolah untuk anak-anak mereka. “Karena hanay bisa mancing atau menjaring ikan, jadi saat tidak melaut karena cuaca buruk ini,ya kami hanya diam di rumah. Biaya hidup suda dipersiapkan dari tabungan saat bekerja pada cuaca normal,” jelasnya.

Dampak cuaca buruk sudah pasti ketersedian ikan ke pasar tradisional maupun restoran akan turun dibandingkan hari biasnaya. Hanya saja, kebutuhan ikan di masa pecekelik ini situasi ini masih bisa dipenuhi dari masuknya ikan dari kabupaten lain di Bali hingga pasokan ikan dari Jawa dipastikan mulai membanjiri pasar ikan di Buleleng. Apalagi, memasuki suasana hari Natal dan menjelang Tahun Baru 2018 kebutuhan ikan untuk kegiatan pesta akan meningkat dibandingkan hari biasanya. (mudiarta/balipost)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.