Ilustrasi. (BP/dok)
DENPASAR, BALIPOST.com – Tiga pasien suspect difteri dibawa ke RSUP Sanglah dalam beberapa hari terakhir. Satu orang telah terkonfirmasi negatif difteri berdasarkan hasil laboratorium. Sedangkan dua suspect masih menunggu hasil laboratorium.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya, MPPM mengatakan, tiga pasien tersebut yaitu pasien dengan inisial MDMP (1 tahun 7 bulan), anak laki-laki asal Pemecutan, Denpasar Barat, NKSS (30), perempuan asal Karangasem, dan MDS (4), laki-laki asal Ubud, Gianyar. “Memang benar suspect, harus dilakukan pemeriksaan lab. Kami masih menunggu hasilnya dalam beberapa hari,” ujarnya Senin (25/12).

Jika satu kasus positif difteri, Bali akan dinyatakan KLB (kejadian luar biasa) difteri. Menurutnya jika KLB, pemerintah akan melakukan ORI (outbreak response immunization). ORI yaitu memberikan imunisasi pada anak dari usia 1-19 tahun. “Kalau hasilnya negatif, ya enggak,” tandasnya.

Selain ORI, penanganan yang akan dilakukan adalah memperkuat imunisasi dasar lengkap dengan cakupan 90 persen. Pihaknya juga sudah melakukan surveilans (pengamatan penyakit). “Kalau ada satu suspect, kita lakukan pengamatan epidemiologi dengan memeriksa kontak terdekat dari kasus itu. Yaitu dengan memeriksa swab tenggorokannya,” bebernya.

Terkait tiga suspect difteri, ia menjelaskan pasien MDMP asal Denpasar kini kondisinya sudah membaik dan membran sudah mengecil. Setelah dilakukan pemeriksaan lab, hasilnya terkonfirmasi negatif dan telah dipulangkan.

Sementara NKSS asal Karangasem, akan diberikan ADS (anti difteri serum). “Dokter yang merawat pasien NKSS yaitu dr. Agus Somia melaporkan pasien dalam kondisi stabil,” imbuhnya.

Baca juga:  Presiden Jokowi dan Megawati Beri Selamat Koster

Dari tiga kasus suspect difteri yang ditemukan di Bali, hasil laboratorium dari dua kasus belum terkonfirmasi. Yaitu, pasien MDS (4) dari Ubud, Gianyar dan NKSS (30) dari Karangasem. Hasil laboratorium akan keluar 5 hari mendatang.

“Satu sudah negatif, yang kasus kedua (MDS, red) sudah membaik. Artinya kemungkinan untuk difteri, ya mudah-mudahan tidak. Karena sudah ada perbaikan klinis. Menunggu konfirmasi lab saja. Yang kasus ketiga (NKSS), sampelnya baru dikirim kemarin,” bebernya.

Pemeriksaan laboratorium dilakukan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) di Surabaya.

Yang terpenting dilakukan adalah promosi kesehatan dengan KIE (komunikasi informasi edukasi). Untuk pencegahan, kebersihan diri dan lingkungan harus tetap terjaga.

Menurutnya, Bali telah terlindungi dari penyakit difteri karena cakupan imunisasi di Bali di atas 95 persen, bahkan ada yang 100 persen. Cakupan imunisasi pada balita di Bali cukup baik sehingga belum pernah ditemukan kasus difteri di Bali.

Di Bali belum pernah terjadi kasus difteri. Tiga tahun lalu pun terdapat suspect difteri namunnya hasil labnya terkonfirmasi negatif. Ia berharap, dua suspect difteri ini negatif, karena beberpa penyakit mirip dengan difteri. Seperti tonssilitis, membranosa, faringitis.

Kasubbag Humas RSUP Sanglah, Dewa Ketut Kresna menambahkan, MDMP dan MDS masuk ke RSUP Sanglah pada 22 Desember, sedangkan NKSS masuk pada 24 Desember. (Citta Maya/balipost)

1 KOMENTAR

  1. menghilangkan 1 kata dapat mengubah makna dari bahasa..walaupun agar lebih menarik di baca menurut saya judulnya kurang pas, seolah2 sudah ada kasus difteri di bali. sangat bertolak belakang dengan paragraf pertama.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.