MANGUPURA, BALIPOST.com – Serangkaian Hari Raya Natal, umat Kristiani, Senin (25/12), menggelar Ibadah Natal, diĀ Gereja GPIB “Ekklesia” Kuta, kompleks peribadatan Bandara Ngurah Rai. Suasana khusyuk terlihat saat ribuan umat kristiani melakukan doa Natal.

Selain dihadiri umat di sekitar Gereja, juga dihadiri umat kristen yang sedang berlibur di Bali. Seperti perayaan tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan ibadah Natal ini sebagai bentuk rasa terimakasih kepada Tuhan.

Menurut Pendeta Semuel Karinda, perayaan Natal kali ini dilaksanakan dengan sangat sederhana. Ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak erupsi Gunung Agung. “Perayaan Natal ini, bukan untuk pesta, tapi kami rayakan dengan penuh kesederhanaan,” ucapnya.

Menurut Pendeta Semuel Karinda, Ibadah Natal menjadi ibadah yang sangat luar biasa bagi umat Kristiani di seluruh Dunia. Makanya dari ibadah ini yaitu, Yesus yang dipercaya sebagai Tuhan, datang ke Dunia menjelma sebagai manusia.

Yesus dengan kemahakuasaan-Nya, hadir di tengah-tengah manusia. “Dalam hal ini, Yesus menjelma sebagai manusia untuk menyelamatkan manusia, karena manusia sudah jatuh kedalam dosa,” ungkapnya.

Dari makna Itulah, ibada Natal ini dilaksanakan. Sehingga momen malam Natal ini menjadi titik baru dalam kehidupan orang Kristen untuk rekonsiliasi dengan Tuhan.

Karena memurutnya, kemurahan Tuhan menyelamatkan manusia, maka sudah sewajarnya untuk berekonsiliasi atau berterimakasih kepada Tuhan. “Itu terjadi di seluruh dunia merayakan hari rekonsiliasi ini. Kami berharap dengan rekonsiliasi manusia dengan Tuhan, akan terjadi juga rekonsiliasi dengan manusia yang lain, dengan masyarakat, dengan agama-agama lain,” harapnya.

Baca juga:  Ini, Belasan Titik Jalan Rusak di Jembrana

Ditambahkannya, untuk di Bali, sangatlah kondusif dalam hal menjaga keamanan. Bali saat ini menjadi masyarakat Internasional. Dan kehadiran umat Kristiani di Bali merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan membuka hubungan yang baik dengan umat yang lain.

Itu tercermin di tempat ibadah ini yang mana di dalam satu kawasan, terdapat Pura, Masjid, Gereja. “Selama ini, kami selalu bertoleransi, yang mana dengan umat yang lain terjalin komunikasi dan toleransi yang sangat baik. Di Bali ini sangat luarbiasa dalam hal toleransi. Hal seperti ini tidak bisa ditemukan di tempat lain,” ucapnya.

Ketua panitia Natal di GPIB Ekklesia, Tuban, Rensy Pattipeilohy menambahkan, sebelumnya, pada ibadah malam Natal, Minggu (24/12), juga ada kunjungan dari Bupati Badung, Nyoman Giri Prasta. Melalui perayaan Natal ini, pihaknya juga menyampaikan terimakasih atas partisipasi dari berbagai pihak dalam hal menjaga kemanan selama ibadah berlangsung.

Terutama kepada pihak kepolisian yang sudah mengamankan demi kelancaran pelaksanaan Ibadah Natal. “Pelaksanaan ibadah Natal kali ini sudah berjalan aman. Kami berharap kedepannya bisa berjalan lebih baik lagi dan aman,” ucapnya.

Menurutnya, rangkaian Ibadah Natal ini yaitu dari 24, 25 hingga 26 Desember, kemudian dilanjutkan 31 Desember dan 1 Januari 2018. Untuk rangkaian perayaan Natal tahun ini juga dilaksanakan beberapa kegiatan sosial. Salah satunya adalah melakukan kunjungan dan pemberian bingkisan kepada warga jemaat di lingkungan sekitar gereja. (Yudi Karnaedi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.