Nyoman Suardika berdagang kacamata pascamengungsi karena peningkatan aktivitas Gunung Agung. Sebelumnya ia berprofesi sebagai supir truk galian C. (BP/nan)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Warga yang mengungsi akibat aktivitas Gunung Agung yang sampai kini masih aktif mulai beralih profesi. Tindakan ini terpaksa dilakukan untuk tetap bisa menghasilkan uang menghidupi keluarga.

Umumnya, mereka beralih profesi menjadi pedagang. Hasil berjualan itu dipakai sebagai bekal untuk menyambung hidup di pengungsian.

Namun, ada juga sebagian besar warga yang sebelumnya bertani kini menganggur karena tidak lagi memiliki pekerjaan apapun. Termasuk juga warga yang ssbelumnya berkecimpung di dunia pariwisata yang wilayahnya berada di KRB, juga memilih tidak bekerja.

Salah satu pengungsi di Dinas UPTD Pertanian di Desa Rendang, Karangsem asal Banjar Kesimpar, I Nyoman Suardika menuturkan, sebelum Gunung Agung erupsi pada 21 November lalu, dirinya menggeluti pekerjaan sebagai sopir truk pengangkut pasir. Namun pascaterjadinya letusan itu, ia kehilangan pekerjaan karena galian C tidak beroperasi.

“Kalau sebelum Gunung Agung erupsi saya bekerja jadi sopir truk pengangkut pasir. Berhubung aktivitas Galian C di zona bahaya ditutup, saya terpaksa beralih pekerjaan jadi penjual kaca mata. Profesi ini batu saya lakukan sekitar 2 pekan lalu,” ucapnya.

Baca juga:  Perempuan Pengungsi Gunung Agung Isi Waktu dengan Buat Produk Upacara Keagamaan

Dia menjelaskan, untuk barang dagangan berupa kaca mata, dirinya mencari ke Kabupaten Klungkung. Langkah itu dilakukan untuk mencari pemasukan agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga. “Jualan ini merupakan inisiatif sendiri. Karena tidak ada pekerjaan, terpaksa sekarang jualan kaca mata,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Wayan Sumarta. Kini ia menjadi pedagang bakso keliling. Sebelumnya ia mencoba peruntungan dengan menjual lumpia. “Kalau bakso memang lebih diminati ketimbang lumpia. Maka dari itu, saya pilih jual bakso saja,” ucap Sumerta yang mengungsi di Puri Boga, Desa Pesaban itu.

Lain lagi Putu Suyasa. Ia menyatakan masih diam saja di pengungsian. Pria yang berprofesi sebagai guide ini sempat kembali bekerja setelah status Gunung Agung diturunkan statusnya ke siaga. Namun, karena statusnya naik lagi, ia pun akhirnya menganggur kembali. “Ternak semuanya sudah dijual karena sulit mencari pakan ternak. Sekarang hanya diam saja di pengungsian. Hanya bisa berharap bencana ini cepat selesai,” harap pria dua anak itu. (Eka Parananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.