Lahan pertanian di Mengwi, Badung. (BP/dok)
DENPASAR, BALIPOST.com – Pertumbuhan lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan, dari 5,92 persen triwulan II 2017 menjadi 4,74 persen pada triwulan III 2017. Dibandingkan triwulan III 2016, lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan juga mengalami penurunan dari 6,23 persen menjadi 4,74 persen. Bahkan pada triwulan II 2016, pertumbuhannya hanya 0,34 persen.

Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan (BI KPw) Provinsi Bali, Causa Iman Karana mengatakan, penurunan kinerja lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan disebabkan menurunnya produksi sub lapangan usaha tanaman bahan makanan kususnya padi. Hal ini karena tingginya serangan hama dan penyakit tanaman akibat kondisi anomali cuaca.

Produksi padi pada subround II 2017 sebesar 301.241 ton, menurun dibandingkan subround II tahun 2016 yang mencapai 335.874 ton. Namun dibandingkan subround I 2017, produksi padi tahun subround II 2017 mengalami peningkatan.

Karena pada subround I 2017 produksi padi sebesar 289.344 ton. Penurunan kinerja lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan juga disebabkan oleh menurunnya produksi komoditas perkebunan akibat kondisi cuaca basah. Sehingga produktivitas tanaman perkebunan mengalami penurunan yang signifikan.

Sementara itu, lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan merupakan penopang ekonomi terbesar kedua dengan share 14,25 persen pada triwulan III 2017. Sedangkan penopang terbesar masih dipegang lapangan usaha akomodasi, makan  dan minum kontribusinya 23,43 persen.

Memasuki triwulan IV 2017, kinerja lapangan usaha pertanian menunjukkan tendensi perlambatan. Terutama disebabkan oleh peningkatan curah hujan pada periode ini dan kondisi anomali cuaca serta penurunan luas tanam komoditas pangan khususnya padi. Hal ini berpotensi menahan laju pertumbuhan produksi komoditas tanaman hortikultura dan perkebunan akibat potensi serangan hama dan penyakit tanaman.

Baca juga:  40 KUPVA BB Ilegal Telah Disegel

Selain itu, terjadinya penurunan luas tanam untuk padi sebesar 12,51 persen (yoy) yaitu dari 25.518 hektar pada triwulan IV 2016 menjadi 19.167 hektar pada triwulan IV 2017 berpotensi menjadi penahan laju peningkatan produksi pangan. Sehingga akan memperdalam perlambatan kinerja lapangan usaha pertanian.

Perlambatan kinerja pertanian juga akan tertahan oleh penurunan produksi perikanan, sejalan dengan masuknya musim hujan dan angin kencang. Sehingga akan menurunkan jumlah tangkapan ikan laut. Kondisi ini akan berdampak pada volume produksi ikan yang diprakirakan mengalami penurunan pada triwulan IV 2017.

Wakil Gubernur Bali, I Ketut Sudikerta mengatakan, Pemerintah Provinsi Bali menaikkan anggaran untuk pertanian dari 7 persen tahun 2017 menjadi 11 persen tahun 2018.Peningkatan anggaran pertanian ini, diakui sebagai salah satu upaya Pemprov Bali dalam mengatasi pariwisata Bali ketika mengalami persoalan bencana seperti Gunung Agung ini.

Dengan menaikkan anggaran, diharapkan sektor pertanian bisa tumbuh, baik untuk memenuhi kebutuhan internal maupun eksternal. “Yang dimaksud eksternal, adalah orientasi ekspor ke pasar internasional dan pasar modern. Sehingga dapat memenuhi kebutuhan itu terhadap produk-produk yang kita create,” jelasnya. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.