sesak nafas
Petugas BPBD Gianyar melakukan evakuasi jasad I Made Asa yang tersangkut di pohon kelapa, Desa Tampaksiring. (BP/nik)
GIANYAR, BALIPOST.com – Warga digegerkan dengan temuan sesosok mayat yang nyangkut di pohon kelapa di Desa Tampaksiring, Gianyar, pada Kamis malam (14/12). Korban diketahui seorang petani setempat bernama, I Made Asa (60). Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gianyar yang melakukan penurunan jenasah korban dari pohon kelapa dengan ketinggian 30 meter itu pun berlangsung dramatis.

Kapolsek Tampaksiring, AKP I Made Tama mengatakan sebelum ditemukan tewas, korban seperti biasa pergi ke tegalan pukul 14.00 wita. Dikatakan korban pergi ke sawah hendak mencari janur dan kelapa untuk persiapan yadnya. “ Di rumahnya mau mecaru, tapi sampai malam korban tidak pulang ke rumah,” jelasnya.

Namun, hingga Kamis malam I Made Asa tak kunjung pulang. Pihak keluarga pun berinisiatif menengok ke areal sawah tetapi sudah sepi. Tidak menyerah dengan temuan itu, pihak keluarga meneruskan pencarian hingga melihat sandal dan topi korban tepat di bawah pohon kelapa. “ Kala itu salah seorang keluarga menaruh curiga pada janur dan buah kelapa yang berserakan di bawah, “ ucapnya.

Nah ketika melihat ke atas pohon, ternyata sebagian badan I Made Asa tampak tersangkut. Semakin malam, semakin ramai warga yang mendatangi lokasi tersebut.

Untuk menurunkan jasad korban, warga dibantu personil BPBD Gianyar mengikat tubuh korban dengan tali. Sejumlah pelepah daun kelapa dan buah kelapa pun harus dipangkas terlebih dahulu. Proses ini pun berlangsung cukup lama hingga Kamis pukul 22.00 malam.

Kapolsek Tampaksiring mengatakan korban punya riwayat sesak nafas. Berdasarkan keterangan anak korban, Korban yang keseharianya bekerja sebagai petani dan pemanjat kelapa belakangan ini sering mengeluh mengalami rasa sakit di bagian dadanya. “Kemungkinan dia sesak nafas karena keterangan dari anaknya pertama korban punya riwayat sesak nafas,” jelasnya.

Dikatakan pihak keluarga sudah menerima kepergian Made Asa sebagai musibah. “Pihak keluarga tidak mau di laksanakan otopsi. Sudah menerima sebagai musibah,” tandasnya. (manik astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.