Rai peni
Ray Peni sedang berpose di depan goa kecil yang menyerupai relief pada tebing aliran Tukad Palak, Senin (11/12). (BP/nik)
GIANYAR, BALIPOST.com –  Ditengah kesibukannya menciptakan lagu, artis Bali yang populer dengan sebutan Ray Peni kini mulai memberikan perhatian terhadap ancaman sampah bagi lingkungan. Penyanyi solo bernama asli I Made Rai Bawa ini pun memulai dengan menata tebing pada aliran sungai di bawah jembatan Tukad Palak, perbatasan Desa Sukawati dengan Desa Batuan.

Ray Peni mengaku sesungguhnya sudah mulai melakukan penataan sejak lima tahun lalu. Pembersihan pertama dilakukan dengan menjauhkan tumpukan sampah di sekitar tebing. Sementara untuk menghentikan suplay sampah yang dibuang sembarangan oleh pengendara, pihaknya sampai harus berkoordinasi dengan pihak Desa Sukawati. “Saya meminta supaya sisi selatan diberi trali pembatas, sehingga orang sulit buang sampah,” jelasnya saat ditemui di Warung Noesantara miliknya, Senin (11/12).

Melalui upaya itu sampah di tebing setinggi 10 meter lebih itu pun mulai berkurang, selanjutnya penyanyi berambut ikal ini bersama sejumlah keluarga membabat semak belukar. Hingga Senin pihaknya sudah melakukan penataan sejauh 60 meter ke timur dari jembatan tersebut. “Sementara hanya segini saja yang bisa saya bersihkan, mungkin kedepan akan digerakkan lagi lebih jauh, “ ucapnya.

Menariknya, selama proses penataan beberapa bulan terakhir, pihaknya dibantu oleh para pengungsi yang tinggal di Lapangan Sutasoma, Sukawati. Gotong royong yang dilakukan pun mempererat rasa kekeluargaan diantara pengungsi. “Saya ajak ikut serta karena mereka juga bingung di pengungsian tak punya kerjaan. Jadilah saya ajak angkat-angkat batu dan bersih-bersih disini,” terangnya.

Setelah kawasan tersebut bersih, Ray Peni juga mulai membuat goa kecil menyerupai relief pada dinding tebing di tukad tersebut. Ray Peni mengaku akan membuat lima ukiran serupa mencerminkan panca pandawa. “Sekarang kan baru dua, nanti saya buat lagi tiga, dan nanti akan dipagari jadi tidak boleh disentuh, hanya difoto, “ katanya.

Baca juga:  Tangani Sampah Pantai Toya Pakeh, Cuaca Buruk Jadi Kendala

Ray Peni mengaku penataan kawasan itu menjadi daya tarik wisata masih sebatas angan-angan. Sebab perlu kerjasama dari berbagai pihak untuk mewujudkannya. “Bagi saya yang terpenting munculnya kesadaran menjaga kebersihan sungai. Tidak perlu jauh-jauh, awali saja dengan membersihkan lingkungan terdekat yang ada di sekitar kita, “ ucapnya.

Ia juga menyoroti tumpukan sampah yang banyak mengotori seputaran jembatan yang ada di wilayah Gianyar. Ia pun mencontohkan sampah yang ada di jembatan Desa Kemenuh menuju Blahbatuh, bahkan sampah di jembatan Tukad Campuhan Ubud. “Ini artinya kesadaran kita akan kebersihan lingkungan memang kurang, makanya saya ingin mengajak generasi muda menyadari pentingnya menata kebersihan lingkungan khususnya aliran sungai, “ ucapnya.

Ray Peni juga menyebut dalam memerangai sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, harus ada partisipasi semua kalangan dalam menumbuhkan kesadaran mencintai lingkungan. “Sebagai seniman saya ingin mengajak masyarakat menjaga kebersihan dan menata lingkungan, “ katanya.

Sementara Perbekel Desa Batuan, Nyoman Netra mengaku belum tahu menahu terkait penataan kawasan di bawah jembatan Tukad Palak, perbatasan Desa Sukawati dengan Desa Batuan. “Saya belum bisa komentari itu, karena dalam musyawarah desa belum pernah muncul secara resmi,“ katanya.

Diakui bila dilokasi tersebut akan dijadikan kawasan objek wisata masih perlu pembahasan lebih lanjut. Namun pihaknya mengaku akan merespon bila ada ide masayarakat menata lingkungan. “Apakah itu ide dari masyarkat kami akan merespon, tapi butuh kajian nanti dalam musdes,“ tandasnya. (manik astajaya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.