Warga menyemprotkan air saat kebakaran atap bangunan di Pura Merajan Agung, Desa Kenderan, terbakar. (BP/ist)
GIANYAR, BALIPOST.com – Insiden kebakaran terjadi di Pura Merajan Agung di Desa Kenderan, Kecamatan Tegalalang, Selasa (5/12). Kejadian ini diduga akibat atap bangunan suci yang terbuat dari ijuk terkena percikan api dari pembakaran batok kelapa.

Untungnya tidak ada korban jiwa dari kejadian ini, namun kerugian dari kejadian ini ditaksir mencapai Rp 90 Juta. Informasi dihimpun kebakaran ini pertama kali diketahui Desak Nyoman Raka (72). Saat sedang bersih-bersih di areal pura, dia melihat ada kepulan asap di atap sebelah timur bangunan suci, Gedong Penyimpenan Ida Ratu Gede.

Kepulan asap terlihat karena atap gedong terbuat dari ijuk. Melihat kepulan asap itu, Desak Raka berteriak-teriak memangil warga setempat.

Mendengar teriakan Desak Nyoman Raka, warga pun berhamburan datang ke pura. Bunyi kul-kul bulus juga mengegerkan warga lainya. Secara bersama mereka lantas berupaya melakukan pemadaman dengan alat seadanya. Selain itu, ada warga yang menghubungi petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Gianyar.

Sambil menunggu Damkar tiba di lokasi kejadian, warga pun mengevakuasi barang-barang suci yang ada di dalam gedong seperti pratima, barong dan lainnya. Tak berselang lama, Damkar Gianyar tiba di lokasi kejadian lalu melakukan penyemprotan. Api akhirnya berhasil dijinakkan.

Kanit Bimas Polsek Tegalalang, Ipda Made Darma menyatakan kesigapan warga membuat kejadian itu tidak sampai merembet. “Cepat diketahui warga, api sudah padam. Damkar sudah menindaklanjuti dengan menyemprot kembali atap ijuk itu, untuk jaga jaga ada api yang tersembunyi,” sebutnya.

Baca juga:  Kemarau Landa Banyuwangi, Lereng Ijen Kebakaran

Sementara Kapolsek Tegalalang AKP Nyoman Merta Kariana mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa memastikan penyebab kebakaran di pura tersebut. “Belum bisa kita pastikan karena setelah dicek api itu ada di ijuk pada bagian bawah seng atap pura,” katanya.

Namun dari hasil pemeriksaan saksi memang saat kejadian warga setempat yakni Desak Nyoman Raka, sedang menyiapkan sarana di pura. Salah satunya membuat ukup-ukup menggunakan batok kelapa sebagai alat pembakaran.

Desak Raka kemudian meninggalkan ukup-ukup di sebelah Timur pura untuk melangsungkan bersih-bersih. “Kita belum bisa pastikan ini ada kaitanya atau tidak, yang jelas api itu ada pada ijuk di bawah seng,” ucapnya.

Dikatakan pascakebakaran pangempon pura langsung melangsungkan rapat. Menurut kelian adat Dewa Ketut Rai Suadnyana, sudah mengikhlaskan insiden kebakaran tersebut sebagai musibah. “Tidak akan menuntut siapapun, dan tidak ada yang dicurigai, karena selama ini kami baik-baik saja, siapa juga yang berani jahat di pura, sementara terkait dengan kebakaran akan menggelar upacara Guru Piduka,” tandasnya. (Manik Astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.