PDAM
Seorang bocah tengah menunjukkan air pdam yang mati sejak pagi. (BP/bit)
TABANAN, BALIPOST.com –  Selama seminggu terakhir intensitas curah hujan diwilayah Kabupaten Tabanan cukup tinggi, akibatnya pelayanan PDAM ke rumah-rumah warga belum optimal. Aliran air bersih tidak lancar dan terkadang tampak keruh akibat lumpur, sehingga warga yang membutuhkan air bersih untuk keperluan sehari-hari merasa terganggu.

“Tidak pernah jernih seperti keadaan normal, selalu keruh, tadi jam 6 pagi sempat hidup sebentar dengan debit air sangat kecil, sekarang mati,” ujar salah seorang warga Denbantas, Minggu (26/11).

Dikatakan, belakangan ini jika ditampung di bak mandi, akan menyisakan endapan lumpur di bawah. “Sore kemarin sempat mati, saat dihidupkan pertama kali, keluar tanah dan bau, hidup hanya tiga jam terus mati lagi, dan ini sudah hampir seminggu lebih,” ucapnya lagi.

Terkait keluhan warga tersebut, Humas PDAM saat dikonfirmasi terpisah mengatakan, tingginya curah hujan belakangan ini memang sedikit mengakibatkan keruhnya air baku PDAM dan banyaknya sedimen yang menimbun di pipa hisap. Bahkan, sejumlah pompa hisap di dua sumber air baku diperkotaan tidak bisa bekerja maksimal karena derasnya air pasca hujan. Tidak salah jika hampir sepekan, sejumlah masyarakat khususnya diwilayah perkotaan mengeluhkan air PDAM yang keruh dan kerap mati.

“Kami mohon maaf kepada para pelanggan, karena memang curah hujan yang cukup tinggi belakangan ini menimbulkan gangguan pada pompa hisap di sejumlah sumber baku yakni di Nyanyi, Kediri dan Petiga, Marga,” beber Humas PDAM Tabanan, Gede Wijana.

Baca juga:  PDAM Diminta Evaluasi Mesin AMO

Tidak hanya gangguan pada pompa penyedot air baku di sumber mata air, belum lama ini transmisi pipa induk juga mengalami kerusakan, namun sudah rampung diperbaiki. “Air cukup deras, daya hisap pimpa tidak normal dan tidak maksimal kerjanya. Bahkan debit air juga tidak full, hanya setengah saja,”jelasnya.

Adanya gangguan pompa hisap tersebut, pihanya mengatakan sudah melakukan upaya maksimal dengan mengganti pompa, hanya saja kejadian serupa tetap saja terjadi. “Pompa sudah diganti juga tidak mempan, mau bagaimana lagi, memang setiap musim hujan selalu seperti ini, dan kita sudah berupaya maksimal,” pungkasnya.

Sementara untuk lumpur yang terbawa saluran air di wilayah Denbantas, dikatakannya juga terjadi karena kondisi mata air disumber Petiga, Marga memang keruh akibat curah hujan, dan disertai pengaruh luapan air yang cukup banyak dari luar sumber air. “Untuk sumber air dari Petiga memang tidak ada sistem sedimentasi, kalau yang di Nyanyi baru pakai siatem tersebut, jadi air sungai kita endapkan dulu baru diolah,” tetangnya.

Pihaknya juga menghimbau bagi para pelanggan untuk bersabar, karena memang petugas teknis sudah berupaya maksimal mengatasi gangguan tersebut. Hanya saja memang kembali ke faktor alam. (puspawati/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.