JAKARTA, BALIPOST.com – Hajatan terbesar para pegiat human capital di Indonesia, The 2nd Indonesia Human Capital Summit (IHCS) 2017, Kamis (9/11), secara resmi dibuka oleh Herdy Harman, Ketua Umum Forum Human Capital Indonesia (FHCI) bersama para pengurus FHCI.

Indonesia Human Capital Summit adalah kegiatan summit dan eksibisi yang diselenggarakan oleh Forum Human Capital Indonesia (FHCI), sebuah wadah bagi para pengelola Human capital di lingkungan BUMN untuk saling berinteraksi, melakukan pembelajaran dan bersinergi untuk kemajuan pengelolaan Human capital di Indonesia. FHCI diinisiasi oleh Kementerian BUMN untuk membantu mewujudkan visi “BUMN Hadir Untuk Negeri”.

Hari pertama the 2nd Indonesia Human Capital Summit 2017 telah menghadirkan berbagai pembicara ternama dari dalam dan luar negeri seperti Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, Sutradara Hollywood, Livi Zheng, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, dan Dino Patti Djalal, Duta Besar RI (2010-2013).

Dalam kesempatan ini Livi Zheng yang sudah merantau ke Beijing sejak umur 15 tahun, menitikberatkan bahwa kita harus selalu ingat akar kita. Asal usul kita adalah suatu identitas diri yang melekat dengan kita, dan ini adalah suatu kekuatan yang mungkin tidak kita sadari.

“Never forget where you came from, your roots are your strengths and inspirations.” ujar Livi Zheng yang baru saja meluncurkan karya barunya, film iklan berformat film pendek, Life is Full of Suprises untuk BRI Life. Life is Full of Surprises mengkombinasikan bola api, cambuk api dan pencak silat.

Penyandang gelar Master jurusan Produksi Film dari University of Southern California ini bercerita pentingnya untuk bermimpi besar. Sejak kecil orang tuanya berkata bahwa untuk menjadi seseorang yang global dan internasional, sangat penting untuk pernah tinggal dan berinteraksi dengan orang lokal di negara-negara besar seperti Indonesia, China dan Amerika Serikat.

Baca juga:  Livi Zheng Jadi Wakil Indonesia di Pertemuan WB-IMF di Washington

Sejak kecil Livi diajarkan untuk mandiri dan cepat beradaptasi, karena kemanapun kita pergi pasti kebudayaannya berbeda. Di Indonesia contohnya saja Jawa Timur dan Jawa Barat, bahasa daerahnya  berbeda, budayanya berbeda, apalagi kalau beda negara.

Livi yang baru saja berbicara di 2017 Annual Meetings of the World Bank Group and IMF bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia Luhut B. Panjaitan, dan Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo menyatakan ”As an Indonesian I am very honored to say that Bali will be hosting the 2018 Annual Meetings for the World Bank Group and IMF. Delegates from189 countries will be in Indonesia in 2018. “

Menurutnya Bali adalah contoh tempat yang cepat beradaptasi. Livi bercerita, “Waktu saya kecil ketika saya ke Bali banyak turis dari Australia, orang Bali belajar dan berbahasa Inggris. Beberapa tahun kemudian saya kembali ke Bali banyak turis dari Jepang, orang Bali belajar dan berbahasa Jepang. Sekarang di Bali banyak turis dari China, orang Bali belajar dan berbahasa mandarin. We have to learn and adapt very quickly in this ever changing world.”

Livi menutup pidatonya dengan kata yang dipanutnya, “Miracles and success begin from faith. Remember that it’s okay to fail, it’s okay to get rejected, because you only need one yes to be successful.” (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.