Ketut Londri (68) dari Lingkungan Samblong, Kelurahan Sangkaragung, Jembrana menganyam buyuk untuk kebutuhan sehari-hari. (BP/kmb)
JEMBRANA, BALIPOST.com – Nipah atau Nypa fruticans adalah salah satu pohon anggota famili Arecaceae (palem) di Jembrana dikenal dengan nama Buyuk, yang umumnya tumbuh di di daerah rawa yang berair payau atau daerah pasang surut di dekat pantai. Pohon nipah tumbuh di lingkungan hutan bakau.

Daun nipah/buyuk yang muda berwarna kuning sedangkan yang tua berwarna hijau. Daun nipah dapat dimanfaatkan untuk membuat atap rumah, anyaman dinding rumah, dan berbagai kerajinan seperti tikar, topi dan tas keranjang. Pada zaman dulu, daun nipah juga dimanfaatkan sebagai media tulis di samping daun lontar.

Pohon nipah (Nypa fruticans)/buyuk mempunyai manfaat yang tidak sedikit. Namun sayangnya pemanfaatan tumbuhan ini masih sangat sedikit. Bahkan tumbuhan ini harus musnah seiring dengan musnahnya hutan mangrove dan kerusakan pantai yang terjadi akibat ulah manusia.

Daun nipah/buyuk ini juga dimanfaatkan warga di Samblong, Kelurahan Sangkaragung, Jembrana untuk membuat kerajinan atap rumah dan kerajinan pagar dan dinding. Apalagi daunnya lebih tahan air dibandingkan dengan daun kelapa. Jika anyaman sudah kering disemprot solar akan lebih awet.

Namun sayang kini daun nipah/buyuk ini makin langka dan sulit dicari karena banyak ditebang. Hal ini menyulitkan para perajin buyuk di wilayah ini untuk mendapatkan bahan baku, sementara permintaan kerajinan atap dari daun buyuk makin sumbringah dan banyak dicari pengusaha hotel/villa.

Nenek Ketut Londri (68) dari Lingkungan Samblong, Kelurahan Sangkaragung, Jembrana, Sabtu (22/7) mengatakan dia menjadi perajin/penganyam daun buyuk menjadi atap sejak sebelum memiliki anak. Jadi sudah puluhan tahun. “Jika dulu masih bisa membuat puluhan lonjor/batang sehari, tapi karena sudah tua kini hanya dapat 3 atau 5 sehari sudah capek dan tidak kuat duduk,” kata Nenek Londri.

Baca juga:  Meski Ngungsi, Warga Peringsari Tiap Hari Buat Kerajinan untuk Dijual

Biasanya Nenek Londri sebelum mengayam akan mengumpulkan daun buyuk dulu di rawa-rawa/ tambak atau hutan mangrove di wilayah Perancak Jembrana sekitar 3 km-5 km dari rumahnya. “Mencari daun buyuk kaki harus siap terendam di rawa-rawa/air. Karena tumbuhnya kan di hutan bakau,” jelas Nenek Londri yang meninggal suaminya lima tahun lalu.

Setelah mendapatkan daun buyuk nenek akan menyiapkan batang bambu sepanjang 3 meter dan tali kemudian dianyam. Biasanya batang bambu dibelinya 50 batang yang sudah disepih Rp 30 ribu dan tali bambu satu ikat Rp 1.000.

Anyaman atap buyuk dijualnya Rp 5.000-8000 satu batang/lonjor panjang 3 meter. “Biasanya ada pengepul dari Denpasar ke sini dan kadang juga ada pengusaha hotel ke sini beli,” jelasnya.

Jika ada pesanan menantu nenek akan mempekerjakan beberapa orang dengan upah Rp 1000 per batang/lonjor. “Kalau ada pesanan harus jauh-jauh hari memesannya karena mencari buyuk cukup sulit. Bahkan kami sampai menyewa lahan dan menanam buyuk dengan sistem bagi hasil,” kata Iluh menantu nenek Londri.

Pihaknya berharap pohon buyuk tetap dipertahankan dan jangan dimusnahkan karena banyak manfaatnya. Apalagi kini atap dan anyaman daun buyuk lagi banyak dicari karena jika dijadikan atap dan pagar kelihatan seni. Meskipun tradisional. (kmb/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.