karantina
Tim Balai Karantina Ikan Kelas I Ngurah Rai Denpasar saat mengambil air di Danau Batur dan ikan yang masih hiduh untuk dijadikan sebagai sampel, Senin (17/7). (BP/nan)
BANGLI, BALIPOST.com –  Tim Balai Karantina Ikan Kelas I Ngurah Rai Denpasar, Senin (17/7) mengambil sampel air Danau Batur yang telah tercemar belarang sejak beberapa hari lalu. Air yang dijadikan bahan sempel tersebut, diambil di tiga desa yang ikan-ikan di keramba jaring apung (KJA) milik petan mati yakni Desa Kedisan, Desa Abang Batudinding, dan Desa Terunyan. Selain mengambil air danau, mereka juga mengambil beberapa ekor ikan yang masih hidup yang juga dijadikan sampel penelitian.

Berdasarkan pantauan dilapangan, tim yang beranggotakan sekitar lima orang tersebut langsung menuju Desa Terunyan untuk mengambil air danau untuk dijadikan sampel. Selain mengambil air danau, petugas juga mengambil beberapa ekor ikan milik petani ikan di Terunya. Setelah selesai mengambil sampel di Terunyan, petugas langsung menuju Desa Abang Batudinding untuk menbgambil sampel yang sama. Terakhir tim langsung bergesa menuju Dermada Kedisan untuk melanjutkan mengambil sampel air danau.

Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, I Nyoman Widiada, Tim Balai Karantina Ikan Kelas I Ngurah Rai Denpasar mengambil sampel air Danau Batur di tiga desa yakni Desa Kedisan, Abang Batudinding, dan Desa Terunyan. “Meraka mengambil air danau dan beberapa ekor ikan yang masih hidup untuk dijadikan sebagai sampel untuk diteliti,” ungkap Widiada.

Widiada mengatakan, berdasarkan hasil pengecekan yang telah dikakukan tim, bahwa suhu air di dalam sebesar 25 derajat celcius, PH 8,5, oksigen 8,2, dan Do 8. Sedangkan untuk suhu air di tepi danau sebesar 24 derajat celcius. “Biasanya untuk daerah perairan DO-nya biasanya 4 sampai 5. Tapi disini DO-nya 8. Jadi, DO-nya ini sudah melawati batas normal,” ucapnya.

Baca juga:  Cara Tradisional, Evakuasi Korban dan Mobil Terperosok di Danau Batur Berhasil Dilakukan

Dia menjelaskan, tujuan dari kedatangan tim dari Karantina Perikanan Provinsi Bali untuk mengetahui kualitas air danau secara keseluruhan pasca terjadinya semburan belerang sejak beberapa hari lalu. Selain itu, pihaknya juga ingin mengecek kondisi ikan di danau. “Dalam hal ini mereka juga memberikan motifasi kepada para petani ikan yang ikan-ikannya mati akibat semburan belerang ini,” tegasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, atas kondisi ini pihaknya sudah mengimbau kepada seluruh warga yang memiliki KJA supaya melakukan panen lebih awal untuk menghidarkan ikan mati akibat semburan belarang ini. “Kita sudah memberikan himbaun itu. Kini tinggal direrapkan warga di lapangan. Selain itu kita juga menghimbau warga agar tidak melakukan penebaran benih ikan di bulan-bulan ini,” jelasnya.

Mengingat masih banyak adanya bangkai-bangkai yang masih mengapung ditengah danau maupun di tepi danau, pihaknya juga sudah menghimbau warga supaya bisa mengangkat bangkai ikan yang mati supaya dibawa kedaratan untuk ditanam di daratan. Sebab, ribuan bangkai ikan yang mati sudah mulai mengeluarkan bau busuk. “Kalau ikan yang mati dibiarkan terus mengapung di danau, maka nantinya dapat mencemari air danau,” tegas Widiada.

Sementara itu Kadis PKP I Wayan Sukartana menyatakan, atas kondisi ini, pihaknya nanati bakal kembali mnelakukan penebaran benih ikan (restoking) di Danua Batur. Kat dia, langkah itu dilakukan untuk meningkatkan jumlah populasi ikan di perairan umum Dana Batur setelah fenomena semburan belarang yang kembali terjadi. “Kita akan upayakan kembali melakukan restoking pada bulan Agusutus mendatang,” katanya. (eka prananda/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.