bayi
Kondisi Ni Ketut Meina Krisnawati yang menderita hydrocepalus. (BP/ina)
BANGLI,BALIPOST.com – Kondisi Ni Ketut Meina Krisnawati, bayi berusia dua bulan yang tinggal di Banjar Belok Desa Yangapi, Tembuku benar-benar memprihatinkan. Akibat penyakit hydrocephalus yang dideritanya, ukuran kepala bayi mungil ini membesar, melebihi ukuran kepala bayi normal pada umumnya.

Sejak lahir, anak keempat pasangan Made Sartini (37) dan Nengah Milu (41) ini tak bisa menyusu secara langsung karena organ hidung dan bibirnya yang tidak normal. Ditemui di rumahnya Minggu (16/7), Meina tampak anteng didekapan ibunya. Ditemani ketiga kakak perempuannya, Meina diberikan susu formula oleh ibunya Sartini dengan bantuan sendok. Hal itu terpaksa dilakukan Sartini lantaran kondisi Meina yang tidak memungkinkan untuk menyusui langsung dari payudaranya maupun menggunakan botol dot.

Selain mengalami hydrocephalus, Meina terlahir tanpa rahang atas. Bagian hidungnya juga tidak tumbuh secara normal. Mata kiri Meina tidak bisa melihat secara normal karena tertutupi selaput. “Walaupun kondisinya seperti ini, tapi anak saya selama ini tidak pernah rewel,” ujarnya.

Sartini menuturkan bahwa anak keempatnya ini dilahirkannya pada 2 Mei lalu di RSU Bangli. Meina lahir melalui operasi cesar, saat kandungannya berusia delapan bulan. Meina lahir dengan bobot tubuh 3,8 kilogram dan panjang 45 cm.

Baca juga:  Kurangi AKI dan AKB, Kemenkes Jalin Kerjasama dengan USAID

Semasih mengandung Meina, Sartini mengaku cukup rutin melakukan control kehamilan ke bidan yang ada di lingkungan Sidembunut, Kelurahan Cempaga Bangli. Selama mengandung, Sartini tidak pernah merasakan adanya gejala yang aneh pada kandungannya. “Tidak ada gejala. Normal seperti tiga kakaknya yang lain,” ujarnya.

Karena kondisinya yang tidak normal, tiga hari pasca dilahirkan, Meina langsung dibawa oleh suaminya ke RSUP Sanglah. Disana Meina sempat menjalani perawatan hingga satu bulan lamanya. Untuk mengeluarkan cairan yang ada pada kepalanya, Meina sudah sempat menjalani operasi.

Sartini mengatakan, sesuai petunjuk dokter, Meina harus menjalani operasi lagi saat usianya sudah menginjak enam bulan. Operasi lanjutan itu dilakukan untuk membentuk beberapa organ pada wajahnya agar bisa berfungsi normal.

Sartini yang secara dinas tercatat sebagai warga Banjar Antugan Desa Jehem ini mengatakan, untuk membiayai pengobatan anak keempatnya itu, dirinya selama ini hanya mengandalkan jaminan kesehatan KIS mandiri. Sementara untuk membiayai kebutuhan hidup lainnya, dirinya hanya bergantung pada pendapatan suaminya yang kesehariannya bekerja sebagai buruh bangunan dengan upah tak menentu. (dayu rina/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.