SLB
Ni Putu Krismoni siswa SLB Bangli saat melukis untuk mempersiapkan diri jelang mengikuti lomba melukis di tingkat nasional yang bakal berlangsung di Surabaya, Jawa Timur, September mendatang. (BP/nan)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Meski mengalami tuna rungu (ganguan pada pendengaran), namun tidak membuat salah seorang siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Bangli Ni Putu Krismoni putus asa untuk terus mengasah kemampuannya di bidang seni. Bahkan akibat kepiawaiannya di bidang melukis, siswa kelas tiga itu sukses meraih juara I lomba melukis di tingkat provinsi. Atas prestasi gemiling itu, siswa asal Serokadan, Susut itu berhak mewakili Bali dalam lomba melukis di tingkat nasional yang bakal berlangsung di Surabaya, Jawa Timur, September mendatang.

Kepala Sekolah (Kepsek) Sekolah Luar Biasa (SLB) Bangli I Made Sudarma saat diwawancarai, Selasa (11/7) mengungkapkan, Ni Putu Krismoni berhak mewakili Bali dalam lomba melukis di tingkat nasional setelah di tingkat provinsi sukses meraih juara I lomba melukis belum lama ini.

Kata dia, atas prestasi itulah dirinya  menjadi satu-satunya wakil Bali di tingkat nasional. “Kini dia (Krismoni red) terus melakukan persiapan untuk mengikuti lomba tersebut. Dia dibimbing oleh guru seni lukis untuk terus mengasah kemampuannya sebelum mengikuti lomba di tingkat nasional yang bakal dilaksanakan di Surabaya, Jawa Timur, September 2017 mendatang,” ungkapnya.

Sudarma berharap, anak didiknya saat mengikuti lomba di tingkat nasional nanti mampu memberikan prestasi terbaik untuk sekolah maupun Bali. Pihaknya juga berharap bisa mengikuti rekanya yakni  Ni Wayan Ariandani yang sukses merebut jura ketiga di tingkat nasional belum lama ini. “Kita harap prestasi Krismoni bisa mengikuti Ardiani. Bahkan kalau bisa prestasinya lebih baik dari dia,” harap Sudarma.

Sementara, Guru seni lukis I Ketut Gede Susana menyatakan, pihaknya mengaku tidak begitu menemui hambatan ketika mengajarkan Krismoni maupun siswa yang lainnya saat memberikan pelajaran melukis. Menurutnya, seorang pendidik harus mengetahui karakter siswasanya seperti apa. Sehingga, siswa yang diajar merasa nyaman untuk mengikuti segala kegiatan di sekolah.

Baca juga:  SMAN 2 Semarapura Juara II Tingkat Nasional Lomba Sekolah Sehat

“Ketika dia sudah tidak mood saat melukis kita tidak bisa paksakan. Kalau dipaksakan, ketika tidak ada keinginan untuk menggambar, bisa-bisa akan marah. Jadi, untuk mengurus anak berkebutuhan khusus harus sabar. Karena tidak sama antara mengurus anak tuna nerta, tuna rungu, dan yang lainnya. Jadi, kita harus pelan-pelan merayu meraka supaya mau melukis,” jelas Susana.

Lebih lanjut dikatakannya, saat ini Krismoni terus mengasah kemampuannya untuk mempersiapakan diri untuk mengikuti loma di tingkat nasional. Kata dia, pihaknya tidak membebankan anak didikannya target di tingkat nasional. Pihaknya hanat berharap, suapaya anak didiknya bisa tampil dengan semaksimal mungkin saat lomab nanti.

“Tidak ada target. Kita pihak sekolah hanya ingin diA (Krismoni red) bisa menunjukkan karya terbaiknya pas lomba. Yang penting berusaha dulu. Masalh hasil sudah ada yang mengatur. Karena sebuah kesuksesan bisa diraih atas kerja keras,”tandasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, untuk hasil karya yang dihasilkan oleh Krismoni maupun siswa lainnya dijual oleh pihak sekolah. Selain di jual saat pamerean-pameran yang diikuti selama ini, terkadang hasil karya anak didiknya langsung dicari kesekolah oleh konsumen. “Bahkan banyak yang langsung kesini untuk membli hasil karya anak-anak.  Sementara saat ikut Pamrena di Bandung, Jawa Barat belum lama ini, banyak hasil karya seperti keben, destar yang laku dijual. Karena pembeli senang dengan keunikan polesan lukisan yang dibuat. Karena hasil karya disini khusus berbeda dengan motif diluar. Mengingat kita bikin motif gambaran lain dari yang lain,” pungkas Susana. (eka prananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.