SINGARAJA, BALIPOST.com – Pengembangan budidaya tanaman non beras di Buleleng belakangan ini semakin berkurang. Petani hanya mengenal dan menanam jagung, ketela pohon, dan ketela rambat.

Padahal, Buleleng memiliki tanaman non beras dan memiliki nilai sejarah pada masa Kerajaan Ki Gusti Anglurah Panji Sakti dikenal dengan nama Jagung Gembal. Tanaman ini dipatenkan melalui lambang daerah Singa Ambara Raja. Jagung Gembal pun keberadaanya terancam punah karena tidak lagi dibudidayakan oleh petani di Bali Utara.

Selain Jagung Gembal, masih ada tanaman pangan non beras berkualiatas yang potensial dibudidayakan. Jenis tanaman itu adalah Ubi “Sikep” yang dahulu banyak dibudidayakan petani di Kecamatan Busungbiu. Sayang, keberadaan tanaman penting ini keberadaanya terancam punah. Beruntung, petani di Desa Uma Jero, rutin menanam namun produksinya sangat minim.

Nama Ubi “Sikep” ini identik dengan bentuk ubi berbentuk sayap atau cakar kaki burung “Sikep”. Konon, karena bentuknya itu petani pada zaman dahulu memberikan nama tanaman endemis di Buleleng ini sebagai dengan sebutan Ubi “Sikep”.

Meski namanya unik, kandungan gizi sama dengan jagung. Selain itu, tehnik pengolahannya tergolong mudah, mulai dari direbus atau dikukus dan dijadikan panganan olahan sebagai pengganti nasi.

Ubi “Sikep” banyak dicari karena dijadikan salah satu perlengkapan untuk membuat sarana upakara banten menurut tradisi di Bali.

Mantri Tani Kecamatan Busungbiu, Wayan Suedeg ditemui di sela-sela pameran produksi tanaman hortikultura di arena Twin Lake Festival (TLF) Jumat (7/7) mengatakan, ubi “sikep” kini kondisinya terancam punah karena hanya segelintir petani yang masih menanam sebagai tanaman penyela di areal perkebunan. Semakin sedikitnya tanaman ini karena petani menganggap tanaman ini tidak potensial dan harga jualnya kalah dengan tanaman non beras lainnya.

Baca juga:  Lokasi Terendam Air, Parade Sapi Gunakan Jalan ke Pura Ulun Danau Tamblingan

Selain itu, pemahaman yang sangat kurang membuat petani tidak banyak yang tahu kalau Ubi “Sikep” merupakan tanaman endemis di beberapa daerah di Buleleng terutama pada tekstur tanah gembur dan sedikit berpasir. Satu rumpun tanaman mampu menghasilkan ubi paling berat mencapai 10 kilogram.

Sedangkan, harga jualnya tergolong murah yakni dengan uang Rp 5.000 mendapatkan sepotong Ubi “Sikep”. “Umumnya ada di Kecamatan Busungbiu, tapi sekarang hanya satu dua saja yang masih menanam. Kalau saja tidak ada yang masih menanam, mungkin tanaman yang memiliki kandungan gizi tinggi dan fungsi untuk sarana upakara ini punah,” katanya.

Menurut Suedeg, mencegah tanaman punah, diperlukan upaya pengenalan kepada petani. Pengenalan ini sudah dilakukan melalui kegiatan penampingan petani di kelompok subak di wilayah binaanya.

Selain itu, untuk mengenalkan manfaat Ubi “Sikep”, pihaknya menampilkan produksi budidaya yang masih dilakukan petani di arena TLF 2017. Selama pameran, banyak pengunjung yang tertarik mencari tahu keberadaan Ubi “Sikep” dan termasuk membeli ubi untuk coba dibudidayakan atau diolah. “Banyak yang baru tahu karena namanya sedikit aneh, sehingga tertarik untuk mencari tahu informasi lanjutan dan ada membeli baik untuk bibit dan diolah. Mudah-mudahan hasil pameran ini Ubi “Sikep” ini lebih dikenal dan banyak petani yang tertarik menanam, sehingga produksi yang sekarang terbatas bisa meningkat,” jelasnya. (Mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.