SALATIGA, BALIPOST.com – Kreativitas terbukti menjadi hal penting dalam pengembangan wisata kuliner. Itulah yang ditempuh oleh warga kampung yang berada di Ledok, Argomulyo, Kota Salatiga, Jawa Tengah.

Di kampung ini, ketela pohon atau ubi kayu diolah menjadi aneka kuliner dengan cita rasa modern. Sebutan Kampung Singkong pun layak disandang kampung yang berada di sekitar Pertigaan ABC Salatiga ini.

Kampung yang menjadi sentra produksi aneka olahan berbahan singkong ini pun menjadi destinasi wisata kuliner di Salatiga. Lokasinya yang strategis, berada di dekat jalan besar Solo-Semarang, mudah dijangkau wisatawan.

Di sini, singkong yang dulu sering diidentikkan dengan jajanan ndeso atau makanan kelas bawah itu bertransformasi menjadi salah satu oleh-oleh paling diburu di Salatiga. Salah satu yang menjadi ikon Kampung Singkong itu adalah Singkong Keju D9.

Dulu pelancong hanya mengenal Gethuk Kethek yang diproduksi salah satu warga yang berlokasi tepat di pintu masuk kampung. Kini mereka dibuat terpikat oleh olahan singkong yang sebenarnya jauh lebih sederhana proses pembuatannya, yakni singkong keju. Singkong goreng yang ditaburi atau dilengkapi dengan topping parutan keju dan susu kental. Plus taburan meses untuk versi komplitnya.

Jajanan istimewa ini bisa didapatkan di Singkong Keju D-9. Sebuah kafe besar yang ada di Jalan Argowiyoto No.8A, Ledok, Argomulyo, menjadi tempat utama didapatkannya olahan ini. Tak hanya Singkong Keju yang renyah dan creamy yang bisa didapatkan di kafe ini.

Aneka produk olahan berbasis ketela pun disuguhkan di kafe ini. Seperti Singkong Keju Mayones, Singkong Daging Sapi Lapis Keju, Singkong Keju Tuna, burger telo, pancake telo, perkedel singkong saus semur, paket oblok-oblok daun singkong, roll telo udang asam manis, telo chicken crispy dan lain-lain.

Produk lain yang bisa dikemas sebagai oleh-oleh seperti mento, klenyem, cothot, dan timus juga tersedia. Pembeli bisa langsung memilih dan membungkusnya dengan dus packing yang telah disiapkan.

Kafe Telo D-9 ini juga menawarkan singkong frozen siap goreng. Ini adalah keunggulan lain dari produk singkong D-9. Singkong dikemas kedap udara dan dibekukan sehingga membuatnya bisa lebih tahan lama.

Baca juga:  Resmi Diluncurkan, Sail Sabang 2017 Jadi Event Sail Terbesar di Tanah Air

Singkong frozen ini paling disukai konsumen dari luar kota untuk dijadikan oleh-oleh. Dengan adanya singkong frozen tersebut, konsumen bisa menggorengnya sendiri di rumah dan bisa menikmatinya dalam keadaan hangat.

Penggemar singkong keju D-9 ini ternyata begitu banyak. Tempat parkir yang cukup luas di depan kafe sering tak lagi mampu menampung. Mobil pengunjung pun akhirnya berderet di sepanjang jalan.

Menurut Hardadi, pemilik Singkong Keju D-9 Salatiga, usaha yang telah ditekuninya sejak 2009 ini terus berkembang dan diminati. Awalnya, tempat berjualan dengan gerobak di Lapangan Pancasila.

Mulai pertengahan 2011 berpindah jualan ke rumah. Rupanya, pembeli terus mencari oleh-oleh khas ini. Apalagi saat #LiburanLebaran pengunjung pasti bertambah dan omset penjualan pun naik. Pada lebaran kali ini bahkan naik 100%.

Menurutnya, tanggapan positif dari pelanggan itu adalah buah tangan kesabaran dirinya dalam merintis usaha. Tanpa rasa ulet, telaten, kerja keras, hingga kesabaran, dirinya tidak bisa merasakan dan melihat perkembangan usaha seperti saat ini. Dari berawal hanya bisa memproduksi sekitar 5 kilogram singkong, kini bisa mencapai antara 2 ton hingga 3 ton per hari.

Jika saat #MudikPenuhPesona kemarin Anda belum sempat mampir ke Kampung Singkong, bisa Anda agendakan pada liburan yang akan datang. Jika pintu tol Salatiga sudah benar-benar dibuka, maka akses ke Kampung Singkong ini makin mudah. Lokasi kampung ini tak begitu jauh dari pintu tol Salatiga.

Ketua Gastronomi Indonesia Vita Datau Messakh menyebut, tren wisata kuliner dunia saat ini selalu mengkaitkan tentang kekuatan lokal produk dan manfaatnya bagi kesehatan karena mengandung banyak serat.

“Usaha Pak Hardadi melalui Singkong Keju D-9 ini patut dihargai. Karena bukan saja kreatif tetapi sekaligus mempromosikan kearifan pangan lokal. Dan ini menjadi kekuatan disebuah destinasi kuliner,” ujar dia yang ditunjuk Menteri Arief Yahya sebagai Ketua Tim Percepatan Wisata Kuliner Kemenpar itu. (kmb/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.