ormas
Pemerintah Desa Tegallinggah Kecamatab Sukasada bersama tokoh masyarakat, kepolisian dan camat Sukasada menggelar pertemuan mengklarifikasi spanduk Ormas FPI yang sebelumnya terpasang di depan Masjid Nurul Huda. (BP/sos)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Pascapenurunan spanduk Ormas Front Pembela Islam (FPI) bergambar Sayyid Muhammad Rizieq Syihab yang terpasang di depan Masjid Nurul Huda, Pemerintah Desa Tegallinggah, Kecamatan Sukasada bersama tokoh masyarakat langsung melakukan klarifikasi, Kamis (29/6).

Pada kesempatan yang dihadiri polisi dan juga camat itu, dinyatakan spanduk tersebut dipasang oknum yang tak bertanggung jawab. Bahkan, ditegaskan desa menolak ormas yang bertentangan dengan pemerintah.

Perbekel Tegallinggah, I Ketut Mudarna mengatakan selama empat tahun dirinya bertugas, kehidupan umat Hindu dan Muslim sangat rukun. Adanya kemunculan spanduk ormas terkenal itu secara tiba-tiba membuatnya sangat terkejut. Ditegaskan, itu dipasang oleh oknum yang tak bertanggung jawab. “Kami tegaskan, pemerintah desa menolak ormas yang bertentangan dengan pemerintah. Kami tegaskan,” ucapnya.

Kehadiran spanduk itu diakui telah memunculkan kehebohan pada masyarakat. Itu tak hanya dari Tegallinggah, tetapi juga dari desa tetangga. Oleh sebab itu, pihaknya langsung menyampaikan permohonan maaf. “Apapun yang terjadi di desa, kami minta maaf,” ungkapnya.

Tokoh masyarakat Desa Tegallinggah, H.Muzair juga mengaku terkejut dengan keberadaan spanduk berukuran 1,5 x 1 meter itu di pagar masjid. Pemandangan yang baru pertama kali muncul ini diharapkan tak menjadi boomerang untuk memecah kebersamaan antarumat. “Dari tokoh masyarakat tidak mengetahui dan sangat tidak mengharapkan hal ini,” katanya.

Guna menghindari munculnya persoalan serupa, ia menegaskan siap membina masyarakat, terutama generasi muda. Hal ini juga tertuang dalam surat pernyataan yang tertandatangani tokoh masyarakat dan juga pemerintah desa. “Kami membuat surat pernyataan yang ditandatangani, untuk secara bersama-sama bertanggung jawab membina anak-anak,” ucapnya.

Baca juga:  Pengungsi Mulai Pulang, 22 Perbekel Zona Merah Dikumpulkan

Mendengar pernyataan spanduk itu dipasang oleh oknum, Aliansi Masyarakat Peduli Buleleng, Gusti Nyoman Widnyana yang juga hadir pada pertemuan itu meminta oknum tersebut dihadirkan. Hal tersebut penting untuk mengetahui motif dibalik aksi itu. “Kita perlu tahu titik permasalahannya, apa motif pemasangan spanduk itu,” katanya.

Namun, permintaan itu belum bisa dikabulkan. Sebab, belum ada gambaran jelas terkait oknum yang dimaksud. Mendapat jawaban demikian, pria vokal ini mengaku sudah mengantongi identitasnya. Diharapkan, itu bisa disikapi secara tegas.

Sementara itu, Kapolsek Sukasada, Kompol Ketut Darmita menyampaikan pemasangan spanduk tersebut diduga hanya dilakukan oleh simpatisan. Pihaknya belum mengambil langkah penyelidikan karena tidak didasari laporan dari masyarakat. Meski demikian, langkah preventif akan tetap dilaksanakan. “Kami akan sarankan lagi ke masyarakat untuk menghidupkan lagi siskamling. Supaya tak ada lagi pemasangan spanduk seperti ini lagi,” tandasnya.

Seperti berita sebelumnya, spanduk tersebut diketahui warga, Rabu (28/6) pagi. Itu tak hanya mengundang perhatian masyarakat setempat, tetapi juga dari desa Anturan, Pemaron dan Tukad Mungga, Kecamatan Buleleng. Mereka juga langsung mendatangi lokasi. (sosiawan/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.