burung
Kondisi bangunan GOR di Desa Tembuku yang terbengkalai sejak tujuh tahun terakhir. (BP/ina)
BANGLI, BALIPOST.com – Bangunan GOR di Desa Tembuku, Bangli terbengkalai sejak hampir tujuh tahun terakhir. Tak kunjung rampungnya proses tukar tanah menyebabkan GOR yang dibangun dengan dana APBN senilai miliaran rupiah itu belum bisa dimanfaatkan masyarakat hingga saat ini. Karena tak pernah dirawat, sejumlah bangian bangunan kondisinya kini mulai mengalami kerusakan. GOR tersebut juga kumuh karena menjadi tempat bersarangnya ribuan ekor burung sesapi.

Berdasarkan pantauan, Selasa (27/6), bangunan GOR yang berada tepat di depan Puskesmas Tembuku I nampak cukup megah dari luar. Namun di bagian dalam, bangunan GOR banyak mengalami kerusakan. Ketiga pintu yang ada di bagian depan dan sisi samping GOR sudah rusak. Demikian juga pada bagian lantai dan tembok bangunan sudah banyak yang berlubang dan retak. Tak hanya itu, ruangan yang ada di sudut barat daya bangunan GOR juga tampak kumuh dipenuhi kotoran burung sesapi.

Perbekel Desa Tembuku Ketut Mudiarsa saat ditemui siang kemarin mengakui bahwa GOR yang ada didesanya tersebut sudah terbengkalai sejak hampir tujuh tahun terakhir. Saat selesai dibangun dan diresmikan 2010 lalu, GOR itu hanya sempat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berolahraga selama sepuluh hari. “Sekarang hampir 30 persen bangunan GOR kondisinya sudah rusak,” ujarnya.

Dijelaskan Mudiarsa, terbengkalainya bangunan GOR selama ini disebabkan karena adanya persoalan terkait tukar tanah yang tak kunjung selesai. Awalnya GOR tersebut akan dibangun oleh pihak komite di lahan bekas rumah dinas Camat Tembuku yang berlokasi 100 meter sebelah timur dari bangunan GOR saat ini. Tetapi seorang warga atas nama Sutama, mengajukan surat permohonan agar GOR dibangun di lahan milik keluarganya yakni di lokasi saat ini, dengan alasan agar tidak berdekatan dengan rumah warga. Permohonan itu kemudian disetujui oleh komite. Namun dalam perjalanannya, kerabat dari Sutama yang bernama Malik keberatan dengan keberadaan GOR di lokasi sekarang ini karena dirinya juga merasa memiliki hak atas tanah itu.  “Sejak munculnya masalah itu, GOR tidak pernah lagi dipakai masyarakat,” jelasnya.

Baca juga:  Bangunan di Rutan Bangli 75 Persen Rusak

Untuk menuntaskan persoalan itu, Mudiarsa mengatakan atas inisiatif pihaknya bersama Camat Tembuku, sudah sempat dilakukan beberapa kali mediasi dengan pemilik lahan. Akan tetapi mediasi yang juga melibatkan Pemkab Bangli hingga 10 kali itu, tak kunjung menemukan jalan keluar. “Terakhir mediasi sempat dilakukan tahun 2015 sekitar bulan Juni. Tapi dari sekian pergerakan tidak juga ada hasil. Dari pada waktu habis untuk itu yang sudah terpaksa kami biarkan,” ujarnya.

Meski demikian hingga saat ini pihaknya masih sangat mengharap persoalan tukar tanah itu bisa segera selesai. Pihaknya berharap keberadaan GOR bisa dimanfaatkan masyarakat Tembuku sebagai mana mestinya. “Untuk menuntaskan persoalan itu yang saat ini saya harapkan Pemkab bisa mengkaji ulang permasalahannya, dimana titik permasalahannya, bagaimana cara menyelesaikannya termasuk melakukan pertemuan/mediasi kembali dengan pemilik lahan. Sehingga bangunan GOR yang asetnya bernilai miliaran rupiah ini tidak terbengkalai terus menerus. Ini bukan saja keinginan saya sendiri tapi keinginan masyarakat lainnya,” imbuhnya. (dayu rina/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.